noviakl10jambi

April 30, 2011

Pencemaran Udara

Filed under: Uncategorized — noviakl10jambi @ 5:29 pm

PENCEMARAN UDARA

 

  1. Karakteristik Udara

Berbicara mengenai udara tidak bias lepas dari atmosphere, sebab udara sebagai bagian dari atmosphere yang menyelimuti bumi. Atmosphere tersebut merupakan suatu system yang dinamis yang mengabsorbsi sejumlah padatan, cairan, dan gas. Menyebar dan bereaksi diantara mereka baik dengan berbagai substansi yang lain maupun secara kimia/fisik.

Komponen-komponen gas yang terdapat didalamnya tidak tersebar merata. Lebih kurang 99,9 % dari masa gas terdapat pada ketinggian dibawah 50 km dan sisanya antara ketinggian 50-100 km.

Atmosphere terbagi dalam 4 bagian :

  1. Troposphere sebagai lapisan terbawah dari atmosphere terbentang pada ketinggian antara 8 km pada kutub dan 16 km pada ekuator.
  2. Stratosphere merupakan lapisan diatas troposphere, terbentang pada ketinggian 12-50 km diatas permukaan bumi
  3. Mesosphere, terbentang pada ketinggian 50-80 km diatas permukaan bumi, mengandung sedikit sekali gas, tidak ada uap air dan ozon yang terdapat pada seluruh lapisan.
  4. Thermosphere, terbentang pada ketinggian ± 80 km. Kehadiran gas pada lapisan ini dalam bentuk atom dan cenderung terpisah dalam lapisan-lapisan.

Pencemaran udara secara luas terfokus pada lapisan troposphere dan sedikit sekali menembus stratosphere. Hal ini sangat penting untuk lebih mengetahui efek dari pencemaran.

Air yang terdapat pada troposphere secara terus menerus terjadi pertukaran dengan bumi, melalui proses evaporasi dan precipitasi yang dialami, yang lebih dikenal dengan siklus Hidrologi.

  1. Sumber Pencemaran Udara
  2. Alam (natural source) seperti kebakaran hutan, embusan debu oleh angin, bencana gunung berapi dan lain-lain
  3. Aktifitas manusia (man made source) seperti dari industry, transportasi pembangkit tenaga listrik dan lain-lain
  1. Proses terjadinya pencemaran

Secara umum proses terjadinya pencemaran yang disebabkan oleh aktivitas manusia dapat dibagi dalam 3 kategori :

  1. Attrition (gesekan), terjadi pada setiap aspek kehidupan mulai dari yang sederhana, seperti gesekan sepatu atau gesekan ban mobil sampai ke yang lebih kompleks seperti pnenyebaran partikel-partikel ke udara melalui proses sanding (pemecahan butiran), grinding (pemotongan), drilling (pengeboran), dan spraying (penyemprotan).
  2. Vaporization (penguapan), suatu perubahan bentuk dari cair ke bentuk gas. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh adanya kekuatan tertentu seperti tekanan/pemanasan sedang yang lain adalah secara alami, pada temperature normal. Vaporaziton merupakan penyebab dari bau/rangsangan.
  3. Combustion (pembakaran), contoh proses pembakaran seperti pembakaran bahan bakar (batubara, minyak) untuk pembangkit listrik maupun kendaraan bermotor. Pembakaran tersebut dapat berlangsung sempurna maupun tidak sempurna yang dapat menyebabkan pencemaran.
  1. Macam-macam Bahan Pencemar Udara

Dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok.

  1. 1.      Klasifikasi menurut bentuk asal
    1. Bahan pencemar udara primer (primary air pollutant) yaitu polutan yang apabila menyebar, keadaanya tetap seperti keadaan semula.
    2. Bahan pencemar udara sekunder (secondary air pollutant) yaitu bahan pencemar udara primer yang mengalami reaksi dengan senyawa lain setelah keluar dari sumbernya.
    3. Klasifikasi menurut keadaan phisik pollutant

Polutan dapat berada dalam bentuk padat, cair, gas. Bentuk padat dan cair disebut juga particulate.

  1. Klasifikasi menurut susunan kimia bahan pencemar
    1. Inorganik, gas atau particulate yang tidak mengandung unsure carbon dan umumnya apabila mengandungunsur tersebut, tidak dikombinasikan dengan hydrogen.
    2. Organik, gas, vapor atau particulate yang tersusun dari unsur carbon, yang mempunyai kombinasi dengan hydrogen dan mungkin juga dengan unsur-unsur inorganic yang lain.
  1. Pencemar Udara yang Utama
  2. Oxida Carbon, merupakan hasil pembakaran dari bahan bakar, , dari hasil pembakaran yang sempurna, sedang CO dari hasil pembakaran yang tidak sempurna.
    1. Carbon Monooxida

Sumber utama ialah kendaraan bermotor, asap rokok. Ciri-cirinya tidak berbau, tidak berwarna, toxic, mempunyai efek berlomba dengan oksigen untuk mengikat hemoglobin didalam darah.

  1. Carbon Dioxida

Tidak dikategorikan sebagai pollutant, sebab mempunyai peranan yang penting didalam proses kehidupan.

  1. Sulfur dan senyawa-senyawa, molekul-molekul sulfur yang utama di udara ialah  dan .  dan  merupakan hasil pembakaran (combustion) dari kayu, batubara dan produk-produk petroleum.
  2. Nitrogen Oxida
    1. NO (Nitric Oxida), tak berwarna terbentuk pada proses pembakaran pada temperatur yang tinggi, yang menyebabkan terjadinya reaksi antara Nitrogen dengan Oxygen didalam mesin dan berbentuk NO. NO relative tidak berbahaya, tetapi apabila NO bereaksi dengan Oxygen diudara akan membentuk  yang lebih toxic.
    2. (Nitrogen dioxyda), berwarna coklat, sehingga dapat mengurangi penglihatan.
    3. Photochemical oxidant, ialah secondary pollutant  yang terbentuk oleh pengaruh sinar matahari pada oksidasi nitrogen dan hydrocarbon diudara.
    4. Hydrocarbon, senyawa yang berisi unsure carbon dan hydrogen dalam berbagai macam kombinasi.
    5. Fluoride, penyebarannya dapat berupa gas atau solid, pada konsentrasi yang rendah sangat baik untuk pertumbuhan tulang dan gigi baik pada manusia maupun pada hewan. Pada konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, radang saluran pernafasan, sesak nafas.
    6. Particulate
    7. Radioaktif, pencemaran oleh radioaktif dapat terjadioleh sebab dari alam maupun dari aktivitas manusia antara lain melalui penggunaan reactor nuclear sebagai sumber tenaga nuklir, laboratorium research atau dari tempat-tempat pengujian senjata.
  1. Peranan Meteorologi dalam Pencemaran Udara
  2. Efek dari energy matahari.

Salah satu hal yang penting dari energy matahari adalah memansakan udara, dengan melalui 3 cara :

  1. Radiasi, pemindahan panas atau cahaya oleh gelombang energy.
  2. Konduksi, pemindahan panas melalui kontak antara tanah yang panas dengan molekul-molekul udara diatasnya.
  3. Konveksi, pemindahan panas melalui pergerakan/aliran sekelompok udara.
  4. Terbentuknya Angin

Bumi berputar secara terus menerus terhadap matahari, sehingga terjadi siang dan malam, akibatnya terjadilah angin oleh sebab perbedaan tekanan.

  1. Suhu dan ketidakstabilan udara

Semakin tinggi tempatnya, suhu udara semakin menurun, dan mempunyai angka penurun yang tertentuyang disebut adiabatic lapse rate.

  1. Mixing Depth

Artinya suatu expansi dimana udara panas naik dan bercampur dengan udara yang lebih dingin diatasnya, sampai mencapai atau menemukan titik persamaan udara dan temperaturnya.

  1. Inversi

Ialah suatu kejadian/keadaan dimana lapisan udara yang dingin terkurung oleh lapisan udara yang lebih panas diatasnya sehingga udara tersebut tidak bias naik dan bercampurdengan udara diatasnya.

 TOXIKOLOGI LINGKUNGAN

”Pencemaran udara”

DI SUSUN OLEH :

NOVIA TRY ARIANI

TINGKAT : 1

 

 

 

KEMENTRIAN KESEHATAN

POLITEKNIK KESEHATAN JAMBI

2010

Logam Berat Timbal (Pb) dan Cadmium (Cd)

Filed under: Uncategorized — noviakl10jambi @ 5:26 pm

MAKALAH TOXIKOLOGI

“Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd)”

 

 

Di susun oleh :

NOVIA TRY ARIANI

Kementerian Kesehatan RI

Poltekkes Jambi

Jurusan Kesehatan Lingkungan

2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Logam berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd)”. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Toxikologi Lingkungan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Jambi,   Januari 2011

Penulis


 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………. i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………… ii

BAB I. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang…………………………………………………………………………. 1
  2. Tujuan……………………………………………………………………………………. 2

BAB II. ISI

  1. Timbal (Pb)……………………………………………………………………………… 3
  2. Kadmium (Cd)…………………………………………………………………………. 4
  3. Kerugian yg diakibat oleh pencemaran Timbal (Pb)…………………………. 5
  4. Kerugian yang diakibatkan oleh pencemaran Kadmium (Cd)…………….. 6
  5. Logam berat Pb dan Cd pada Hati……………………………………………….. 8

BAB III. PENUTUP……………………………………………………………………………… 9

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………… 10


 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dalam kimia, sebuah logam (bahasaYunani: Metallon) adalah sebuah unsur kimia yang siap membentuk ion (kation) dan memiliki ikatan logam, dan kadang kala dikatakan bahwa ia mirip dengan kation di awan elektron. Metal adalah salah satu dari tiga kelompok unsur yang dibedakan oleh sifat ionisasi dan ikatan, bersama dengan metaloid dan nonlogam. Dalam tabel periodik, garis diagonal digambar dari boron (B) ke polonium (Po) membedakan logam dari nonlogam.Unsur dalam garis ini adalah metaloid, kadang kala disebut semi-logam; unsur di kiri bawah adalah logam; unsur kekanan atas adalah nonlogam.

Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 gr/cm3, terletak di sudut kanan bawah sistem periodik, mempunyai afinitas yang tinggi terhadap unsur S dan biasanya bernomor atom 22 sampai 92 dari perioda 4 sampai 7. Sebagian logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) merupakan zat pencemar yang berbahaya.Kadmium, timbal, dan tembaga terikat pada sel-sel membran yang menghambat proses transpormasi melalui dinding sel. Logam berat juga mengendapkan senyawa fosfat biologis atau mengkatalis penguraiannya.

Logam berat masih termasuk golongan logam-logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan logam-logam yang lain. Perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini berikatan dan atau masuk kedalam tubuh organisme hidup. Sebagai contoh, bila unsur logam besi (Fe) masuk dalam tubuh, meski dalam jumlah agak berlebihan biasanya tidaklah menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap tubuh karena unsur besi (Fe) dibutuhkan dalam darah untuk mengikat oksigen. Sedangkan unsur logam berat baik itu logam berat beracun yang dipentingkan seperti tembaga (Cu), bila masuk ke dalam tubuh dalam jumlah berlebihan akan menimbulkan pengaruh-pengaruh buruk terhadap fungsi fisiologis tubuh.

Niebor dan Richardson menggunakan istilah logam berat untuk menggantikan pengelompokan ion-ion logam ke dalam kelompok biologi dan kimia (bio-kimia). Pengelompokan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Logam-logam yang dengan mudah mengalami reaksi kimia bila bertemu dengan juga dengan unsur oksigen atau disebut juga dengan oxygen-seeking metal.
  2. Logam-logam yang dengan mudah mengalami reaksi kimia bila bertemu dengan unsur nitrogen dan atau unsur belerang (sulfur) atau disebut juga nitrogen/sulfur seeking metal.
  3. Logam antara atau logam transisi yang memiliki sifat khusus sebagai logam pengganti (ion pengganti) untuk logam-logam atau ion-ion logam.
  1. Tujuan
  • Untuk mengetahui apa itu logam berat.
  • Untuk mengetahui apa itu logam berat Pb dan Cd.
  • Untuk mengetahui kerugian-kerugian yang disebabkan oleh pencemaran logam berat Pb maupun Cd.
  • Untuk mengetahui kandungan Logam berat Pb dan Cd yang terdapat pada hati.

BAB II

ISI

  1. Timbal (Pb)

Logam timbal (Pb) merupakan logam yang sangat populer dan banyak dikenal oleh masyarakat awam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya Pb yang digunakan di industri nonpangan dan paling banyak menimbulkan keracunan pada makhluk hidup. Pb adalah sejenis logam yang lunak dan berwarna cokelat kehitaman, serta mudah dimurnikan dari pertambangan.

Dalam pertambangan, logam ini berbentuk sulfida logam (PbS), yang sering disebut galena. Senyawa ini banyak ditemukan dalam pertambangan di seluruh dunia. Bahaya yang ditimbulkan oleh penggunaan Pb ini adalah sering menyebabkan keracunan.

Kadar Pb yang secara alami dapat ditemukan dalambebatuan sekitar 13 mg/kg. Khusus Pb yang tercampur dengan batufosfat dan terdapat didalam batu pasir ( sand stone) kadarnya lebihbesar yaitu 100 mg/kg. Pb yang terdapat di tanah berkadar sekitar 5 -25 mg/kg dan di air bawah tanah (ground water) berkisar antara 1- 60μg/liter.Secara alami Pb juga ditemukan di air permukaan. Kadar Pbpada air telaga dan air sungai adalah sebesar 1 -10 μg/liter. Dalam airlaut kadar Pb lebih rendah dari dalam air tawar. Laut Bermuda yangdikatakan terbebas dari pencemaran mengandung Pb sekitar 0,07μg/liter. Kandungan Pb dalam air danau dan sungai di USA berkisarantara 1-10 μg/liter.Secara alami Pb juga ditemukan di udara yang kadarnyaberkisar antara 0,0001 – 0,001 μg/m3. Tumbuh-tumbuhan termasuksayur-mayur dan padi-padian dapat mengandung Pb, penelitian yangdilakukan di USA kadarnya berkisar antara 0,1 -1,0 μg/kg berat kering.Logam berat Pb yang berasal dari tambang dapat berubah menjadiPbS (golena), PbCO3 (cerusite) dan PbSO4 (anglesite) dan ternyatagolena merupakan sumber utama Pb yang berasal dari tambang.Logam berat Pb yang berasal dari tambang tersebut bercampurdengan Zn (seng) dengan kontribusi 70%, kandungan Pb murnisekitar 20% dan sisanya 10% terdiri dari campuran seng dan tembaga.

Logam Pb banyak digunakan pada industri baterai, kabel, cat (sebagai zat pewarna), penyepuhan, pestisida, dan yang paling banyak digunakan sebagai zat antiletup pada bensin. Pb juga digunakan sebagai zat penyusun patri atau solder dan sebagai formulasi penyambung pipa yang mengakibatkan air untuk rumah tangga mempunyai banyak kemungkinan kontak dengan Pb.

Logam Pb dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, makanan, dan minuman. Logam Pb tidak dibutuhkan oleh manusia, sehingga bila makanan tercemar oleh logam tersebut, tubuh akan mengeluarkannya sebagian. Sisanya akan terakumulasi pada bagian tubuh tertentu seperti ginjal, hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut.Industri yang perpotensi sebagai sumber pencemaran Pb adalah semua industri yang memakai Pb sebagai bahan baku maupun bahan penolong, misalnya:

-          Industri pengecoran maupun pemurnian.

Industri ini menghasilkan timbal konsentrat ( primary lead), maupun secondary lead yang berasal dari potongan logam ( scrap).

-          Industri batery.

Industri ini banyak menggunakan logam Pb terutama lead antimony alloy dan lead oxides sebagai bahan dasarnya.

-          Industri bahan bakar.

Pb berupa tetra ethyl lead dan tetra methyl lead banyak dipakai sebagai anti knock pada bahan bakar, sehingga baik industri maupun bahan bakar yang dihasilkan merupakan sumber pencemaran Pb.

-          Industri kabel.

Industri kabel memerlukan Pb untuk melapisi kabel. Saat ini pemakaian Pb di industri kabel mulai berkurang, walaupun masih digunakan campuran logam Cd, Fe, Cr, Au dan arsenik yang juga membahayakan untuk kehidupan makluk hidup.

-          Industri kimia, yang menggunakan bahan pewarna.

Pada industri ini seringkali dipakai Pb karena toksisitasnya relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan logam pigmen yang lain. Sebagai pewarna merah pada cat biasanya dipakai red lead, sedangkan untuk warna kuning dipakai lead chromate.

Pada manusia, timbal dapat mengakibatkan bermacam-macam dampak biology, bergantung pada tingkatan dan durasi terpaannya. Dampak yang bervariasi terjadi pada rentang dosis yang luas, dimana janin dan bayi lebih rentan terkena dampak dibanding manusia dewasa.

Terpaan pada tingkat yang tinggi dapat mengakibatkan dampak keracunan biokimia pada manusia, yang selanjutnya dapat mengarah pada berbagai problem seperti mengganggu proses sintesa hemoglobin, menyerang ginjal, saluran pencernaan, persendian, dan sistem reproduksi, serta menimbulkan kerusakan akut maupun kronis pada sistem saraf.

Keracunan berat karena timbal sudah sangat jarang ditemukan. Akan tetapi, pada tingkatan konsentrasi medium, ditemukan bukti-bukti yang cukup persuasif, bahwa timbal dapat mengakibatkan efek-efek sub-klinis, terutama pada perkembangan otak anak. Beberapa studi menduga, untuk tiap kenaikan konsentrasi timbal dari 10 ke 20/g/dl di dalam darah anak-anak, telah mampu menghilangkan kemampuan intelegensi anak sampai dengan 2 poin IQ.

  1. Kadmium (Cd)

Kadmium merupakan salah satu jenis logam berat yang berbahaya karena elemen ini beresiko tinggi terhadap pembuluh darah. Kadmium berpengaruh terhadap manusia dalam jangka waktu panjang dan dapat terakumulasi pada tubuh khususnya hati dan ginjal. Secara prinsipil pada konsentrasi rendah berefek terhadap gangguan pada paru-paru, emphysema dan renal turbular disease yang kronis. Jumlah normal kadmium di tanah berada di bawah 1 ppm, tetapi angka tertinggi (1.700 ppm) dijumpai pada permukaan sample tanah yang diambil di dekat pertambangan biji seng (Zn).

Kadmium lebih mudah diakumulasi oleh tanaman dibandingkan dengan ion logam berat lainnya seperti timbal. Logam berat ini bergabung bersama timbal dan merkuri sebagai the big three heavy metal yang memiliki tingkat bahaya tertinggi pada kesehatan manusia. Menurut badan dunia FAO/WHO, konsumsi per minggu yang ditoleransikan bagi manusia adalah 400-500 μg per orang atau 7 μg per kg berat badan.

Kadmium dapat disebut sebagai zat anti metabolic untuk seng karena dapat melawan partukaran seng (Zn) dalam proses metabolisme dalam jumlah yang diperlukan untuk merangsang pertumbuhan, fungsi hematology dan kontrol suhu badan. Hal tersebut memungkinkan kadmium (Cd) merupakan penyebab penyakit kakurangan zat seng yang karakteristik itu walaupun sesungguhnya makanannya mengandung cukup zat seng (Zn).

-          Kandungan kadmium (Cd) dalam darah.

Konsentrasi kadmium yang normal dalam darah adalah 10 g/l, yaitu pada orang yang tinggal di daerah dengan udaranya bersih, dimana kandungan debu kadmiumnya tidak lebih dari 20 g/m3.

-          Kandungan kadmium (Cd) dalam rambut.

Dengan menggunakan autoradiography seluruh badan sesudah injeksi intravenous 109 Cd (isotop 109) pada tikus, diketahui bahwa kandungan kadmium didalam rambut dapat digunakan untuk menentukan berapa besar akumulasi kadmium dalam seluruh tubuh tikus. Tetapi teknik ini tidak dapat diterapkan pada manusia karena terbentur pada masalah perbedaan tingkat kemampuan penyerapan kadmium oleh berbagai jenis rambut yang berbeda warnanya, perbedaan karena usia serta kontaminasi rambut dari luar (pemakaian bahan kosmetik) .

Cadmium menurunkan sifat beracunnya dari kesamaan sifat kimia nya dengan Zinc yang merupakan micronutrient yg esensial untuk tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia. Cadmium bersifat biopersistent dan sekali diserap oleh organisma, akan menetap selama bertahun-tahun (lebih dari 1 dekade untuk manusia) meskipun sebagian akan juga terbuang melalui sistem pembuangan mahluk hidup.

Pada manusia, terpaan jangka panjang (long term) berakibat pada disfungsi ginjal. Terpaan pada tingkat yang tinggi bahkan dapat menyebabkan penyakit paru-paru dan dihubungkan dengan kasus-kasus kanker paru-paru, meskipun data-data terkait ini masih sulit diinterpretasikan. Cadmium juga dapat mengakibatkan kerusakan tulang (osteomalacia, osteoporosis) pada manusia dan binatang. Selain itu, juga terbukti menyebabkan tekanan darah tinggi dan myocardium pada binatang, meskipun untuk manusia data-data yang ada belum menunjukkan bukti yang cukup.

Rata-rata manusia diperkirakan kemasukan sekitar 0.15/g cadmium dari udara dan 1/g dari air. Disamping itu, merokok 1 pack berisi 20 rokok dapat berarti menghirup sekitar 2 – 4/g cadmium.

  1. Kerugian yg diakibat oleh pencemaran Timbal (Pb)

-          Gangguan neurologi.

Gangguan neurologi (susunan syaraf) akibat tercemar oleh Pb dapat berupa encephalopathy, ataxia, stupor dan coma. Pada anak-anak dapat menimbulkan kejang tubuh dan neuropathy perifer.

-          Gangguan terhadap fungsi ginjal .

Logam berat Pb dapat menyebabkan tidak berfungsinya tubulus renal, nephropati irreversible, sclerosis va skuler, sel tubulus atropi, fibrosis dan sclerosis glumerolus. Akibatnya dapat menimbulkan aminoaciduria dan glukosuria, dan jika paparannya terus berlanjut dapat terjadi nefritis kronis.

-          Gangguan terhadap sistem reproduksi .

Logam berat Pb dapat menyebabk an gangguan pada sistem reproduksi berupa keguguran, kesakitan dan kematian janin. Logam berat Pb mempunyai efek racun terhadap gamet dan dapat menyebabkan cacat kromosom. Anak -anak sangat peka terhadap paparan Pb di udara. Paparan Pb dengan kadar yang ren dah yang berlangsung cukup lama dapat menurunkan IQ .

-          Gangguan terhadap sistem hemopoitik .

Keracunan Pb dapat dapat menyebabkan terjadinya anemia akibat penurunan sintesis globin walaupun tak tampak adanya penurunan kadar zat besi dalam serum. Anemia ri ngan yang terjadi disertai dengan sedikit peningkatan kadar ALA ( Amino Levulinic Acid) urine. Pada anak – anak juga terjadi peningkatan ALA dalam darah.

-          Gangguan terhadap sistem syaraf .

Efek pencemaran Pb terhadap kerja otak lebih sensitif pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa. Paparan menahun dengan Pb dapat menyebabkan lead encephalopathy. Gambaran klinis yang timbul adalah rasa malas, gampang tersinggung, sakit kepala, tremor, halusinasi, gampang lupa, sukar konsentrasi dan menurunnya kecerdasan.

  1. Kerugian yang diakibatkan oleh pencemaran Kadmium (Cd)

Kadnium terutama dalam bentuk oksida adalah logam yang toksisitasnya tinggi. Sebagian besar kontaminasi oleh kadnium pada manusia melalui makanan dan rokok. Waktu paruh kadnium kira-kira 10-30 tahun. Akumulasi pada ginjal dan hati 10-100 kali konsentrasi pada jaringan yang lain.

Dalam tubuh manusia kadnium terutama dieleminasi melalui urine. Hanya sedikit kadnium yang diabsorbsi yaitu sekitar 5-10%. Absorbsi dipengaruhi faktor diet sep erti intake protein, calcium, vitamin D dan trace logam seperti seng (Zn). Proporsi yang besar adalah absorbsi malalui pernafasan yaitu antara 10 -40% tergantung keadaan fisik wilayah. Uap kadnium sangat toksis dengan lethal dose melalui pernafasan diperkirakan 10 menit terpapar sampai dengan 190 mg/m3 atau sekitar 8 mg/m3 selama 240 menit akan dapat menimbulkan kematian. Gejala umum keracunan Cd adalah sakit di dada, nafas sesak (pendek), batuk -batuk dan lemah. Terpapar akut oleh kadnium (Cd) menyebabkan gejala nausea (mual), muntah, diare, kram, otot, anemia, dermatitis, pertumbuhan lambat, kerusakan ginjal dan hati, gangguan kardiovaskuler, empisema dan degenerasi testicular.

  • Gejala akut dan kronis akibat keracunan Cd ( Kadnium).

- Gejala akut :

a. Sesak dada.

b. Kerongkongan kering dan dada terasa sesak ( constriction of chest )

c. Nafas pendek.

d. Nafas terengah-engah , distress dan bisa berkembang ke arah penyakit radang paru-paru.

e. Sakit kepala dan menggigil.

f. Mungkin dapat diikuti kematian.

- Gejala kronis:

a. Nafas pendek.

b. Kemampuan mencium bau menurun.

c. Berat badan menurun

d. Gigi terasa ngilu dan berwarna kuning keemasan.

Selain menyerang pernafasan dan gigi, keracunan yang bersifat kronis menyerang juga saluran pencernaan, ginjal, hati dan tulang. Usaha manusia untuk mengetahui pengaruh kadnium terhadap kesehatan dapat menggunakan pendekatan dengan cara percobaan-percobaan terhadap binatang seperti yang diterangkan sebagai berikut :

-          Pengaruh Cd terhadap ginjal.

Percobaan binatang dengan menyuntikan larutan kadnium klorida kedalam tubuh kelinci betina manunjukkan bahwa kelinci tersebut turun berat badannya. Urinenya mengandung protein melampaui batas normal dan kadang-kadang disertai keluarnya alkaliphosphatase dan asam Phosphatase sebagai tanda adanya kerusakan pada tubulus distal dari ginjal. Konsentrasi kadnium klorida sebesar antara 10,50 – 300 ppm dalam air minum tikus menyebabkan perubahan dari hampir seluruh pembuluh darah ginjal apabila diperiksa dengan mikroskop electron. Tetapi tidak ada tanda –tanda perubahan yang terlihat dalam waktu 24 minggu apabila kadar kadnium dalam air minum tersebut hanya 1 ppm.

-          Pengaruh Cd terhadap hipertensi.

Kadnium sebagai penyebab hipertensi atau penyebab penyakit jantung pada manusia (aterosclerotic heart disease) mungkin masih diragukan, tetapi percobaan dengan binatng untuk mengetahui hubungan tersebut telah dilakukan. Binatang percobaan kelinci dibuat hipertensi dengan memberikan injeksi intra peritoneal kadnium asetat seminggu sekali sampai beberapa bulan lamanya. Suatu endapan kadnium terbentuk beberapa waktu kemudian dalam jaringan hati dan ginjal (batu ginjal merupakan salah satu penyebab hipertensi dan hipertensi merupakan salah satu penyebab penyakit jantung)

-          Pengaruh Cd terhadap kerapuhan tulang.

Penyakit kerapuhan tulang seperti didapatkan pada penyakit itai itai diketemukan pula pada percobaan pada tikus jantan yang diberi diet makanan yang mengandung kadnium serta kadar protein dan kalsiumnya rendah. Bardasarkan percobaan ini orang menduga bahwa makanan yang bergizi rendah menyebabkan orang mudah terkena keracunan kadnium (kadnium intoxication).

 

  1. Logam berat Pb dan Cd pada Hati

Penelitian mengenai Deteksi Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada Hati dan Ginjal Babi yang dipasarkan Di pasar Tradisional wilayah Karawang dilaksanakan di Laboratorium Kimia Bahan Alam dan Lingkungan Universitas Padjadjaran, mulai pada bulan November 2009 sampai bulan Desember 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar kandungan logam berat Pb dan Cd pada hati dan ginjal babi yang dipasarkan di Pasar tradisional wilayah Karawang. Lima belas sampel hati dan ginjal diperoleh dari pasar-pasar tradisional yang menjual daging babi di Karawang,  kemudian dianalisis menggunakan mesin AAS.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey.  Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah logam berat yang terdeteksi sebesar 1,4096 dan rata-rata kandungan logam berat Pb pada hati sebesar 0,2013. Jumlah logam berat Pb yang terdeteksi pada   ginjal sebesar 0,7921 ppm dengan rata-rata sebesar 0,1153 ppm. Sedangkan jumlah kandungan logam berat Cd pada hati yang terdeteksi adalah sebesar 0,4266 ppm, dengan rata-rata sebesar 0,0426 ppm. Jumlah kandungan logam berat Cd yang terdeteksi pada ginjal sebesar 0,4096 ppm dengan  rata-rata 0,0341 ppm. Kandungan logam berat Pb pada hati dan ginjal masih dibawah batas maksimum residu (BMR) yang direkomendasikan oleh POM (1998) yaitu sebesar 2,0000 ppm. Sedangkan kandungan logam berat Cd pada hati dan ginjal melebihi batas maksimum residu (BMR) yang direkomendasikan oleh EPA yaitu sebesar 0,01 ppm.

BAB III

PENUTUP

Logam berat termasuk bahan berbahaya dan beracun yang biasanya dihasilkan oleh industri berupa limbah. Logam berat yang lazim terdapat dalam limbah industri adalah logam timbal (Pb), merkuri (Hg), kadnium (Cd), arsenicum (As), dan chromium (Cr). Walaupun kadar logam dalam tanah, air, dan udara rendah, namun dapat meningkat apabila manusia menggunakan produk-produk dan peralatan yang mengandung logam, pabrik-pabrik yang menggunakan logam, pertambangan logam, dan pemurnian logam.

Logam berat masih termasuk golongan logam-logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan logam-logam yang lain. Perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini berikatan dan atau masuk kedalam tubuh organisme hidup. Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh manusia lewat makanan, air minum, atau melalui udara. Logam-logam berat seperti tembaga, selenium, atau seng dibutuhkan tubuh manusia untuk membantu kinerja metabolisme tubuh. Logam-logam tersebut berpotensi menjadi racun jika konsentrasi dalam tubuh tinggi. Logam berat menjadi berbahaya disebabkan sistem bioakumulasi. Bioakumulasi berarti peningkatan konsentrasi unsur kimia tersebut dalam tubuh makhluk hidup sesuai piramida makanan. Akumulasi atau peningkatan konsentrasi logam berat di alam mengakibatkan konsentrasi logam berat di tubuh manusia adalah tertinggi. Jumlah yang terakumulasi setara dengan jumlah logam berat yang tersimpan dalam tubuh ditambah jumlah yang diambil dari makanan, minuman, atau udara yang terhirup. Jumlah logam berat yang terakumulasi lebih cepat dibandingkan dengan jumlah yang terekskresi dan terdegradasi.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Kadmium

http://id.wikipedia.org/wiki/Timbal

http://www.ligagame.com/forum/index.php?topic=71261.0;wap2

http://id.wikipedia.org/wiki/Logam

http://id.shvoong.com/exact-sciences/1921262-logam-berat/

http://journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-2-03.pdf

http://affan-enviro.com/home

Laporan Praktikum : Mikrobiologi

Filed under: Uncategorized — noviakl10jambi @ 5:24 pm

LAPORAN PRAKTIKUM

“Mikrobiologi Lingkungan”

 

Di susun oleh :

NOVIA TRY ARIANI

Nim :

PO.71.330.10.2491

Kementerian Kesehatan RI

Poltekkes Jambi

Jurusan Kesehatan Lingkungan

2011


LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktek               : Sterilisasi

Mata Kuliah                : Mikrobiologi

Hari/tanggal               : Senin/4 Oktober 2010

Lokasi                          : Laboratorium Mikrobiologi

Tingkat/semester        : Satu (1)/satu (1)

Tahun                          : 2010/2011

Laporan ini telah diteliti dan disetujui oleh :

Jambi,                             2010

Pembimbing Praktek

Pembimbing 1                                                                         Pembimbing 2

Gustomo Yamistada, S.Pd, M.Sc                                             Zunidra, S.KM, MKes

NIP. 19762032000121001                                                       NIP. 196305241989032003

PRAKTIKUM 1

Judul Praktikum          : Sterilisasi

Hari/tanggal               : Senin/4 Oktober 2010

Tujuan                         : untuk membebaskan alat-alat dari kontaminasi mikroba

  1. Kajian Materi

Sterilisasi adalah suatu usaha untuk membebaskan alat-alat dan bahan-bahan dari segala macam bentuk kehidupan mikroba. Alas an utama pengendalian mikroorganisme adalah :

  • Mencegah penyebaran penyakit-penyakit dan infeksi
  • Membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi
  • Mencegah pembusukan dan perusakan bahan oleh mikroorganisme

Sterilisasi dengan pemijaran dipakai untuk sterilisasi jarum ose dan sebagainya yang terbuat dari platina atau mikhrom, caranya ialah dengan membakar alat-alat tersebu diatas api lampu spiritus sampai pijar.

Sterilisasi dengan udara kering dipakai menggunakan alat yang disebut hot air sterilizer (oven), oven digunakan untuk alat-alat glass seperti Erlenmeyer, petridish, tabung reaksi, dan alat-alat gelas lainnya. Bahan-bahan seperti kapas, kain dan kertas juga dapat disterilisasikan dengan alat ini, sebelum disterilisasi alat-alat glass harus dibungkus terlebih dahulu dengan kertas HVS dan kertas perkamen/kopi. Makin tebal kertas yang digunakan maka makin lama waktu sterilisasi.

  1. Alat dan Bahan :
  • Kertas putih HVS
  • Petridish yang belum disterilikan
  • Pipet ukur yang belum disterilkan
  • Kapas
  • Alkohol
  • Oven
  • Lap Tangan
  1. Cara kerja :
  • Siapkan alat dan bahan
  • Alat-alat yang akan disterilkan (petridish dan pipet ukur) dibungkus atau dipacking dengan menggunakan kertas HVS sesuai dengan petunjuk yang telah diajarkan oleh dosen.
  • Masukkan alat-alat yang akan disterilkan tadi kedalam oven dengan susunan yang rapi.
  • Hidupkan oven atur suhu ke 150®C dan putar timernya dalam waktu 2 jam.
  • Setelah 2 jam oven akan mati dengan sendirinya, kemudian buka blowernya dan biarkan suhunya turun sampai suhu kamar.
  1. Hasil praktikum

Alat yang telah disterilkan dapat digunakan sesuai dengan fungsinya masing-masing.

  1. Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan, bahwa alat dan media yang telah disterilkan akan terbebas dari segala macam bentuk kehidupan mikroba dan alat tersebut dapat digunakan sesuai dengan fungsinya masing-masing.

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktek               : Pembuatan Media Agar

Mata Kuliah                : Mikrobiologi

Hari/tanggal               : Senin/11 Oktober 2010

Lokasi                          : Laboratorium Mikrobiologi

Tingkat/semester        : Satu (1)/satu (1)

Tahun                          : 2010/2011

Laporan ini telah diteliti dan disetujui oleh :

Jambi,                             2010

Pembimbing Praktek

Pembimbing 1                                                                         Pembimbing 2

Gustomo Yamistada, S.Pd, M.Sc                                             Zunidra, S.KM, MKes

NIP. 19762032000121001                                                       NIP. 196305241989032003

PRAKTIKUM 2

Judul Praktikum          : Pembuatan Media Agar

Hari/tanggal               : Senin/11 Oktober 2010

Tujuan                         : untuk mengetahui cara pembuatan dan fungsi dari media agar

  1. Kajian Materi

Media dapat dianggap sebagai kumpulan zat-zat organik maupun anorganik yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri dengan syarat-syarat tertentu. Dalam pemeriksaan laboratorium mikrobiologi, menggunakan media sangat penting, baik untuk isolasi, identifikasi maupun differensiasi.

Media agar yang dipakai adalah :

  • NA (Nutrient Agar)
  • PCA (Plate Count Agar)
  • Blood Agar
  • MC (Mac Concey)
  1. Alat dan Bahan :
  • Media Agar MC
  • Pipet polimetrik
  • Karet penghisap
  • Lampu Bunsen
  • Aluminium Foil
  • Spatula
  • Tungku kaki tiga
  • Kapas
  • 2 Petridish yang telah disterilkan
  1. Cara Kerja:
  • Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
  • Sebelumnya alat-alat tersebut harus dalam keadaan steril.
  • Keluarkan larutan MC dari kulkas
  • Panaskan diatas lampu spritus sampai mencair.
  • Setelah mencair masukkan larutan MC kedalam 2 buah Petridish yang telah disterilkan dengan menggunakan pipet polimetrik dan karet penghisap sebanyak 10 ml pada setiap petridish, dan ratakan dengan menggoyangkan petridish.
  • Setelah media agar mengeras, bungkus kembali petridish dengan rapid an simpan kedalam kulkas.
  1. Hasil Praktikum

Dapat mengetahui cara pembuatan media agar untuk pembiakan bakteri.

  1. Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Media agar berfungsi sebagai tempat pembiakan bakteri.

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktek               : Isolasi Kuman Diudara

Mata Kuliah                : Mikrobiologi

Hari/tanggal               : Sabtu/16 Oktober 2010

Lokasi                          : Laboratorium Mikrobiologi

Tingkat/semester        : Satu (1)/satu (1)

Tahun                          : 2010/2011

Laporan ini telah diteliti dan disetujui oleh :

Jambi,                             2010

Pembimbing Praktek

Pembimbing 1                                                                         Pembimbing 2

Gustomo Yamistada, S.Pd, M.Sc                                             Zunidra, S.KM, MKes

NIP. 19762032000121001                                                       NIP. 196305241989032003

PRAKTIKUM 3

Judul Praktikum          : Isolasi Kuman Diudara

Hari/tanggal               : Sabtu/16 Oktober 2010

Tujuan                         : untuk menghitung jumlah koloni kuman yang ada diudara

  1. Kajian Materi

Media pembiakan adalah media yang digunakan dalam suatu material adanya kuman yang dicari dalam jumlah yang sangat sedikit atau disamping jumlah yang dicari sangat sedikit, juga terdapat kuman-kuman lain dalam jumlah besar. Untuk hal tersebut, material perlu dimasukkan dalam media pembiakan, dimana kuman yang dicari akan tumbuh subur, sedangkan kuman yang lain akan dihambat pertumbuhannya.

  1. Alat dan Bahan
  • 2 Petridish yang telah diberi media agar MC
  1. Cara Kerja
  • Keluarkan larutan MC dari kulkas.
  • Letakkan media pada posisi yang mewakili (Ruang Pendidikan).
  • Kemudian buka petridish selama 10 menit, dan biarkan media kontak dengan udara.
  • Setelah itu, tutup dan bungkus kembali petridish tersebut.
  • Masukkan petridish kedalam incubator dengan posisi terbalik agar tetap pada kondisi kering selama 2×24 jam.
  1. Hasil Praktikum

Telah dilakukan isolasi kuman diudara dan dibiakkan selama 2×24 jam.

  1. Kesimpulan

Dari praktikum yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa material perlu dimasukkan dalam media pembiakan dimana kuman yang dicari akan tumbuh subur, sedangkan kuman yang lain akan dihambat pertumbuhannya.

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktek               : Menghitung Koloni Kuman

Mata Kuliah                : Mikrobiologi

Hari/tanggal               : Kamis/21 Oktober 2010

Lokasi                          : Laboratorium Mikrobiologi

Tingkat/semester        : Satu (1)/satu (1)

Tahun                          : 2010/2011

Laporan ini telah diteliti dan disetujui oleh :

Jambi,                             2010

Pembimbing Praktek

Pembimbing 1                                                                         Pembimbing 2

Gustomo Yamistada, S.Pd, M.Sc                                             Zunidra, S.KM, MKes

NIP. 19762032000121001                                                       NIP. 196305241989032003

PRAKTIKUM 4

Judul Praktikum          : Menghitung Koloni Kuman

Hari/tanggal               : Kamis/21 Oktober 2010

Tujuan                         : untuk mengetahui jumlah kuman yang terdapat pada media agar yang telah dibiakkan.

  1. Alat dan bahan
  • Pena
  • Pensil
  • Spidol
  • Media MC yang sudah jadi
  1. Cara Kerja
  • Ambil media didalam incubator yang telah ditumbuhi kuman.
  • Amati berapa banyak bakteri yang terdapat pada media tersebut, hitung dan catatlah pada kertas HVS.
  • Gambar bentuk bakteri yang terdapat pada media, dan warnai gambar sesuai dengan warnanya.

Gambar 1 : Ruang Pendidikan                              Gambar 2 : Ruang Pendidikan

  • Kumpulkan hasil pengamatan pada dosen pembimbing.
  • Tutup kembali dan bungkus media dengan kertas HVS.
  • Masukkan media kedalam inkubator dengan posisi terbalik.
  1. Hasil Praktikum

-Pada gambar 1 terdapat jumlah kuman sebanyak 1 koloni/10 menit :

1/10= 0,1 koloni/menit

-Pada gambar 2 terdapat jumlah kuman sebanyak 1 koloni/10 menit :

1/10=0,1 koloni/menit

Jadi pada media MC yang diletakkan pada Ruang Pendidikan hanya sedikit koloni kuman, yaitu :

0,1 koloni/menit + 0,1 koloni/menit = 0,2 koloni/menit

Hal ini disebabkan karena media yang digunakan (media MC) hanya dapat ditumbuhi oleh kuman-kuman tertentu.

  1. Kesimpulan

Dari praktikum yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa kuman-kuman yang terdapat pada media agar yang telah diletakkan pada Ruang Pendidikan berjumlah sedikit, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Hal itu disebabkan karena media yang digunakan (MC) hanya dapat ditumbuhi oleh kuman-kuman tertentu.

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktek               : Pewarnaan Bakteri

Mata Kuliah                : Mikrobiologi

Hari/tanggal               : Senin/15 November 2010

Lokasi                          : Laboratorium Mikrobiologi

Tingkat/semester        : Satu (1)/satu (1)

Tahun                          : 2010/2011

Laporan ini telah diteliti dan disetujui oleh :

Jambi,                             2010

Pembimbing Praktek

Pembimbing 1                                                                         Pembimbing 2

Gustomo Yamistada, S.Pd, M.Sc                                             Zunidra, S.KM, MKes

NIP. 19762032000121001                                                       NIP. 196305241989032003

PRAKTIKUM 5

Judul Praktikum          : Pewarnaan Bakteri

Hari/tanggal               : Senin/15 November 2010

Tujuan                         : untuk mengetahui bentuk dari bakteri dan mengetahui apakah bakteri tersebut termasuk bakteri gram positif atau bakteri gram negative.

  1. Kajian Materi

Pengecatan gram termasuk pengecatan diferensial (untuk membedakan), karena dapat membedakan bakteri-bakteri yang bersifat gram positif dan gram negative.

  • Bakteri gram positif adalah bakteri yang mengikat cat utama dengan kuat, sehingga tidak dapat dilunturkan oleh peluntur dan tidak diwarnai lagi oleh cat lawan. Pada pengamatan mikroskop sel-sel bakteri tampak berwarna biru-ungu (violet).
  • Bakteri gram negative adalah bakteri yang dapat mengikat cat utama tidak kuat, sehingga dapat dilunturkan dengan peluntur dan dapat diwarnai oleh cat lawan. Pada penggunaan mikroskop sel-sel bakteri tampak berwarna merah
  1. Alat dan Bahan
  • Objek glass
  • Tangkrus
  • Lampu Bunsen
  • Jarum Ose
  • Tissue
  • Spidol Berwarna
  • Pipet Tetes
  • Biakan bakteri pada media agar
  • Larutan Kristal Violet (gram A)/genti violet
  • Larutan Lugol (gram B)
  • Larutan Pencuci/alkohol (Gram C)
  • Larutan Fuchsin/safranin (Gram D)
  • Air Bersih
  1. Cara Kerja
  • Objek glass dijepit/dipegang dengan tangkrus, kemudian bersihkan objek glass dengan menggunakan alkohol hingga bebas dari lemak, kemudian lakukan fiksasi diatas nyala lampu spritus. Sebelumnya objek glass ditandai dengan spidol dengan berbentuk lingkaran
  • Ambil secara aseptic 1 ose suspensi bakteri dan letakkan pada objek glass yang sudah ditandai tadi, pengambilan sedikit saja (tipis) lalu ratakan.
  • Kering anginkan, kemudian selanjutnya lakukan fiksasi di atas nyala lampu spritus.
  • Setelah dingin, bubuhkan cat utama yaitu crystal violet (gram A) sebanyak 2-3 tetes dan diamkan selama 1 menit.
  • Kemudian cuci dengan air mengalir dan kemudian kering anginkan
  • Selanjutnya tetesi dengan larutan lugol (gram B) sebanyak 1-2 tetes dan diamkan selama 1 menit, lalu cuci dengan air mengalir, lalu kering anginkan.
  • Kemudian cuci dengan alcohol 95% (gram C) sebanyak 1-2 tetes dan diamkan selama 30 detik, selanjutnya cuci dengan air mengalir dan kering anginkan
  • Beri larutan fuchsin atau safranin (gram D) sebanyak 1-2 tetes dan diamkan selama 2 menit.
  • Kemudian cuci dengan air mengalir dan kering anginkan.
  • Setelah kering bungkus objek glass dengan tissue.
  • Kemudian satukan semua objek glass yang telah dibungkus dengan tissue, lalu simpan dalam lemari yang aman dan dalam kondisi yang bersih dan kering.
  1. Hasil Praktikum

Hasil yang didapat dari pewarnaan bakteri ini yaitu objek glass berwarna ungu.

  1. Kesimpulan

Dari praktikum ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pewarnaan bakteri berfungsi untuk membedakan bakteri-bakteri yang bersifat gram negative dan gram positif. Dan pewarnaan bakteri pada media ini didapatkan objek glass nya berwarna ungu, jadi bakteri ini bersifat gram positif (+).

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktek               : Pengamatan Bakteri dengan Mikroskop

Mata Kuliah                : Mikrobiologi

Hari/tanggal               : Senin/22 November 2010

Lokasi                          : Laboratorium Mikrobiologi

Tingkat/semester        : Satu (1)/satu (1)

Tahun                          : 2010/2011

Laporan ini telah diteliti dan disetujui oleh :

Jambi,                             2010

Pembimbing Praktek

Pembimbing 1                                                                         Pembimbing 2

Gustomo Yamistada, S.Pd, M.Sc                                             Zunidra, S.KM, MKes

NIP. 19762032000121001                                                       NIP. 196305241989032003

PRAKTIKUM 6

Judul Praktikum          : Pengamatan Bakteri dengan Mikroskop

Hari/tanggal               : Senin/22 November 2010

Tujuan                         : untuk mengetahui bentuk dari bakteri dan mengetahui apakah bakteri tersebut termasuk bakteri gram positif atau bakteri gram negative melalui mikroskop.

  1. Kajian Materi

Pengecatan gram termasuk pengecatan diferensial (untuk membedakan), karena dapat membedakan bakteri-bakteri yang bersifat gram positif dan gram negative.

  • Bakteri gram positif adalah bakteri yang mengikat cat utama dengan kuat, sehingga tidak dapat dilunturkan oleh peluntur dan tidak diwarnai lagi oleh cat lawan. Pada pengamatan mikroskop sel-sel bakteri tampak berwarna biru-ungu (violet).
  • Bakteri gram negative adalah bakteri yang dapat mengikat cat utama tidak kuat, sehingga dapat dilunturkan dengan peluntur dan dapat diwarnai oleh cat lawan. Pada penggunaan mikroskop sel-sel bakteri tampak berwarna merah
  1. Alat dan Bahan
  • Mikroskop
  • Lembar Kerja
  • Pena
  • Objek glass yang telah terdapat mikroba
  • Larutan Anisol
  1. Cara Kerja
  • Ambil biakan bakteri.
  • Sebelum diamati dibawah mikroskop, objek glass yang terdapat mikroba ditetesi dengan larutan anisol sebanyak 1-2 tetes yang bertujuan untuk memperjelas bentuk bakteri.
  • Amati bentuk, dan warna. Kemudian tentukan apakah bakteri tersebut termasuk gram positif atau gram negative. Lakukan pengamatan pada objek glass dibawah mikroskop.
  • Gambarkan hasil pengamatan pada lembar kerja.
  1. Hasil Praktikum

Gambar 1 :                                                                        Gambar 2 :

Jenis Bakteri :

Gram positif karena berwarna Ungu.

Berbentuk Basil.

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktek               : Pembuatan Lidi Steril

Mata Kuliah                : Mikrobiologi

Hari/tanggal               : Senin / 3 Januari 2011

Lokasi                          : Laboratorium Mikrobiologi

Tingkat/semester        : Satu (1)/satu (1)

Tahun                          : 2010/2011

Laporan ini telah diteliti dan disetujui oleh :

Jambi,     Januari 2011

Pembimbing Praktek

Pembimbing 1                                                                         Pembimbing 2

Gustomo Yamistada, S.Pd, M.Sc                                             Zunidra, S.KM, MKes

NIP. 19762032000121001                                                       NIP. 196305241989032003

PRAKTIKUM 7

Judul Praktikum          : Pembuatan Lidi Steril

Hari/tanggal               : Senin/3 Januari 2011

Tujuan                         : untuk mempermudah pengambilan bakteri

  1. Alat dan Bahan
  • Lidi 15-20 cm
  • Kapas
  • Kertas HVS
  • Oven
  1. Cara Kerja
  • Siapkan alat dan bahan
  • Gulung kapas keujung lidi dengan padat sebesar jari kelingking sepanjang 3 cm, buatlah sebanyak 20 buah.
  • Bungkus kapas lidi dengan menggunakan kertas HVS satu persatu dan ujungnya dilipat, kemudian lem dengan menggunakan lem kertas.
  • Satukan semua kapas lidi, kemudian bungkus kembali dengan kertas HVS agar tidak tercecer.
  • Lakukan sterilisasi dengan menggunakan oven. Masukkan kapas lidi kedalam oven dengan suhu 121®C, dengan tekanan 1,5 atm selama 2 jam.
  1. Hasil Praktikum

Dapat mengetahui cara pembuatan kapas lidi steril.

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktek               : Pemeriksaan E.Coli

Mata Kuliah                : Mikrobiologi

Hari/tanggal               : Senin / 17 Januari 2011

Lokasi                          : Laboratorium Mikrobiologi

Tingkat/semester        : Satu (1)/satu (1)

Tahun                          : 2010/2011

Laporan ini telah diteliti dan disetujui oleh :

Jambi,     Januari 2011

Pembimbing Praktek

Pembimbing 1                                                                         Pembimbing 2

Gustomo Yamistada, S.Pd, M.Sc                                             Zunidra, S.KM, MKes

NIP. 19762032000121001                                                       NIP. 196305241989032003

PRAKTIKUM 8

Judul Praktikum          : Pemeriksaan E.Coli

Hari/tanggal               : Senin/17 Januari 2011

Tujuan                         : Untuk mengetahui cara pemeriksaan E.Coli yang terdapat pada Air.

  1. Alat
  • Inkubator
  • Autoclave
  • Oven
  • Timbangan
  • Beaker glass
  • Pengaduk (spatula)
  • Pipet volume 10 ml, 5ml, 0,5 ml
  • Bunsen
  • Tabung reaksi
  • Rak tabung
  • Ose
  • Tabung Durham
  1. Bahan
  • Aquades
  • Kapas
  • Spiritus
  • Kertas Packing
  • Lactose Broth (LB)
  • Billiant Green Lactose Broth (BGLB)
  • Alkohol
  1. Cara Kerja
  2. Persiapan
  • Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
  • Melakukan sterilisasi terhadap alat yaitu pipet volume dengan menggunakan oven (170-180°C selama 20-30 menit).
  • Bersihkan dan sterilisasikan meja kerja dengan alkohol.
  • Membuat media LB dan BGLB yang diperlukan dengan cara :
  1. Media LB

-          Siapkan tabung reaksi dengan ragam tiga-tiga atau Lima-lima (3×10, 3×1, 3×0,1).

-          Untuk ragam 3×10, media LB dibuat dengan kepekatan 3x (triple strength). Masing-masing tabung reaksi diisi dengan media LB sebanyak 5ml dan diberi tabung durham terbalik dan diusahakan tidak ada gelembung udara.

-          Untuk ragam 3×1 dan 3×0,1 media lactose broth dibuat dengan kepekatan 1x (single strength) masing-masing diisi 10 ml media LB dan diberi tabung durham terbalik dan diusahakan tidak ada gelembung udara.

-          Tabung reaksi diberi penutup tabung atau kapas, selanjutnya disterilkan dengan autoclave dengan suhu 121°C selama 15 menit.

  1. Media BGLB

-          Siapkan tabung reaksi dengan jumlah yang cukup.

-          Media BGLB dibuat dengan kepekatan 1x (single strength). Masing-masing tabung reaksi diisi dengan media BGLB sebanyak 5 ml dan diberi tabung durham terbalik dan diusahakan tidak ada gelembung udara.

-          Tabung reaksi diberi penutup tabung atau kapas, selanjutnya disterilkan dengan Autoclave dengan suhu 121°C selama 15 menit.

  1. Perlakuan Pemeriksaan Sampel Air
    1. Tes perkiraan
  • Siapkan tabung reaksi yang berisi media LB dengan ragam 3×10, 3×1, 3×0,1 yang sudah steril.
  • Siapkan pipet volume yang sudah disterilkan dengan lampu Bunsen.
  • Ambil sampel air dengan pipet volume yang sudah steril sebanyak 10 ml dan masukkan kedalam tabung reaksi dengan media LB kepekatan Triple Strength (3×10), untuk sampel sebanyak 1 dan 0,1 ml dimasukkan kedalam tabung reaksi dengan media LB kepekatan single strength.
  • Eramkan kedalam incubator selama 2×24 jam pada temperature 35-37°C.
  • Selanjutnya lihat hasil pengeraman, tabung positif jika terdapat gas dalam tabung media LB. jika terbentuk gas dalam tabung durham maka hasilnya negative.
  • Untuk memastikan bakteri coliform dilanjutkan pemeriksaan Confirmatif test (test penegasan).
  1. Tes Penegasan
  • Dari masing-masing tabung yang positif diambil 2 ose secara steril dimasukkan kedalam tabung yang berisi BGLB dengan urutan sesuai tabung LB positif yang telah disusun pada rak tabung.
  • Eramkan kedalam incubator selama 2×24 jam pada temperature 35-37°C.
  • Selanjutnya lihat hasil pengeraman, tabung positif bakteri coliform jika terdapat gas dalam tabung media BGLB. Jika tidak terbentuk gas dalam tabung durham maka hasilnya negative. Untuk menghitung jumlah coliform bandingkan jumlah tabung yang positif dengan tabel MPN.

Sedangkan untuk pemeriksaan E.Coli (Fecal Coliform) dilakukan sebagai berikut :

  • Sampel dari tabung BGLB yang menghasilkan gas atau tabung yang positif diambil 2 ose secara steril dimasukkan kedalam tabung yang berisi BGLB (media yang baru) kembali dengan urutan sesuai tabung BGLB positif yang telah disusun pada rak tabung.
  • Eramkan kedalam incubator selama 2×24 jam pada temperature 43-44°C.
  • Selanjutnya lihat hasil pengeraman, tabung positif bakteri E.Coli jika terdapat gas dalam tabung media BGLB. Jika tidak terbentuk gas dalam tabung durham, maka hasilnya negative. Untuk menghitung jumlah E.Coli bandingkan jumlah tabung yang positif dengan tabel MPN.

Isolasi Kuman Di Udara

Filed under: Uncategorized — noviakl10jambi @ 5:21 pm

BAB I

PEDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Bakteri dapat diperoleh dimana-mana. Biasanya kita mengadakan pemiaraan dulu didalam cawan petri (petridisk) yang berisi zat makanan atau medium. Asalkan medium itu dibiarkan terbuka maka setelah 2 kali 24 jam akan kita dapati koloni bakteri dan jamur menutup permukaan medium. Rebusan kentang yang sudah dikuliti ataupun jenang-dodol dapat kita pergunakan sebagai medim yang sederhana.

Koloni cendawan dapat segera dibedakan dari koloni bakteri, koloni cendawan itu memperlihatkan benang-benang miselium. Koloni bakteri nampak seperti sekelumit mentega, air susu, atau percikan sari buah yang kental.

Untuk mengetahui sifat-sifat morfologi bakteri, maka bakteri dapat diperiksa dalam keadaan hidup atau keadaan mati. Pemeriksaan morfologi ini perlu untuk mengenal nama bakteri. Disamping itu diperlukan juga pengenalan sifat-sifat fisiologinya, bahkan sifat-sifat fisiologi itu kebanyakan merupakan faktor penentu dalam mengenal nama spesies suatu bakteri.

1.2 Tujuan

Tujuan dari dilakukannya praktek clinical instructure ini adalah :

  1. Untuk mengisolasi kuman di udara
  2. Untuk menghitung koloni kuman di udara

1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup pelaksanaan praktek isolasi kuman di udara ini adalah di kampus Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Politeknik Kesehatan Jambi jurusan kesehatan lingkungan

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Media

Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media.

Plate Count Agar (PCA)
PCA digunakan sebagai medium untuk mikroba aerobik dengan inokulasi di atas permukaan. PCA dibuat dengan melarutkan semua bahan (casein enzymic hydrolisate, yeast extract, dextrose, agar) hingga membentuk suspensi 22,5 g/L kemudian disterilisasi pada autoklaf (15 menit pada suhu 121°C). Media PCA ini baik untuk pertumbuhan total mikroba (semua jenis mikroba) karena di dalamnya mengandung komposisi casein enzymic hydrolisate yang menyediakan asam amino dan substansi nitrogen komplek lainnya serta ekstrak yeast mensuplai vitamin B kompleks.
2.2  Bakteri

Bakteri, dari kata Latin bacterium (jamak, bacteria), adalah kelompok terbanyak dari organisme hidup. Mereka sangatlah kecil (mikroskopik) dan kebanyakan uniselular (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif sederhana tanpa nukleus/inti sel, cytoskeleton, dan organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Struktur sel mereka dijelaskan lebih lanjut dalam artikel mengenai prokariota, karena bakteri merupakan prokariota, untuk membedakan mereka dengan organisme yang memiliki sel lebih kompleks, disebut eukariota. Istilah “bakteri” telah diterapkan untuk semua prokariota atau untuk kelompok besar mereka, tergantung pada gagasan mengenai hubungan mereka.

Bakteri adalah yang paling berkelimpahan dari semua organisme. Mereka tersebar (berada di mana-mana) di tanah, air, dan sebagai simbiosis dari organisme lain. Banyak patogen merupakan bakteri. Kebanyakan dari mereka kecil, biasanya hanya berukuran 0,5-5 μm, meski ada jenis dapat menjangkau 0,3 mm dalam diameter (Thiomargarita). Mereka umumnya memiliki dinding sel, seperti sel tumbuhan dan jamur, tetapi dengan komposisi sangat berbeda (peptidoglikan). Banyak yang bergerak menggunakan flagela, yang berbeda dalam strukturnya dari flagela kelompok lain.

Struktur sel prokariota

a.        Struktur Sel Bakteri

Seperti prokariota (organisme yang tidak memiliki selaput inti) pada umumnya, semua bakteri memiliki struktur sel yang relatif sederhana. Struktur bakteri yang paling penting adalah dinding sel. Bakteri dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu Gram positif dan Gram negatif didasarkan pada perbedaan struktur dinging sel. Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang terdiri atas lapisan peptidoglikan yang tebal dan asam teichoic. Sementara bakteri Gram negatif memiliki lapisan luar, lipopolisakarida – terdiri atas membran dan lapisan peptidoglikan yang tipis terletak pada periplasma (di antara lapisan luar dan membran sitoplasmik).

Banyak bakteri memiliki struktur di luar sel lainnya seperti flagela dan fimbria yang digunakan untuk bergerak, melekat dan konjugasi. Beberapa bakteri juga memiliki kapsul atau lapisan lendir yang membantu pelekatan bakteri pada suatu permukaan dan biofilm formation. Bakteri juga memiliki kromosom, ribosom dan beberapa spesies lainnya memiliki granula makanan, vakuola gas dan magnetosom.

Beberapa bakteri mampu membentuk endospora yang membuat mereka mampu bertahan hidup pada lingkungan ekstrim.

b.      Morfologi/bentuk bakteri

Berdasarkan berntuknya, bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu:

  • Kokus (Coccus) dalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola, dan mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:
    • Mikrococcus, jika kecil dan tunggal
    • Diplococcus, jka bergandanya dua-dua
    • Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujursangkar
    • Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus
    • Staphylococcus, jika bergerombol
    • Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai
  • Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan mempunyai variasi sebagai berikut:
    • Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua
    • Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai
  • Spiril (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai berikut:
    • Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran
    • Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran

Berbagai bentuk tubuh bakteri

Bentuk tubuh/morfologi bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium dan usia. Oleh karena itu untuk membandingkan bentuk serta ukuran bakteri, kondisinya harus sama. Pada umumnya bakteri yang usianya lebih muda ukurannya relatif lebih besar daripada yang sudah tua.

c.        Alat gerak bakteri

Gambar alat gerak bakteri: A-Monotrik; B-Lofotrik; C-Amfitrik; D-Peritrik;

Banyak spesies bakteri yang bergerak menggunakan flagel. Hampir semua bakteri yang berbentuk lengkung dan sebagian yang berbentuk batang ditemukan adanya flagel. Sedangkan bakteri kokus jarang sekali memiliki flagel. Ukuran flagel bakteri sangat kecil, tebalnya 0,02 – 0,1 mikro, dan panjangnya melebihi panjang sel bakteri. Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang dimiliki, bakteri dibagi menjadi lima golongan, yaitu:

  • Atrik, tidak mempunyai flagel.
  • Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.
  • Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.
  • Amfitrik, mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya.
  • Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.

d.       Pengaruh lingkungan terhadap bakteri

Kondisi lingkungan yang mendukung dapat memacu pertumbuhan dan reproduksi bakteri. Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan reproduksi bakteri adalah suhu, kelembapan, dan cahaya.

a.        Suhu

Berdasarkan kisaran suhu aktivitasnya, bakteri dibagi menjadi 3 golongan:

  • Bakteri psikrofil, yaitu bakteri yang hidup pada daerah suhu antara 0°– 30 °C, dengan suhu optimum 15 °C.
  • Bakteri mesofil, yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 15° – 55 °C, dengan suhu optimum 25° – 40 °C.
  • Bakteri termofil, yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu tinggi antara 40° – 75 °C, dengan suhu optimum 50 – 65 °C

Pada tahun 1967 di Yellow Stone Park ditemukan bakteri yang hidup dalam sumber air panas bersuhu 93° – 500 °C.

b.        Kelembapan

Pada umumnya bakteri memerlukan kelembapan yang cukup tinggi, kira-kira 85%. Pengurangan kadar air dari protoplasma menyebabkan kegiatan metabolisme terhenti, misalnya pada proses pembekuan dan pengeringan.

c.        Cahaya

Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Umumnya cahaya merusak sel mikroorganisme yang tidak berklorofil. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan terjadinya ionisasi komponen sel yang berakibat menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian. Pengaruh cahaya terhadap bakteri dapat digunakan sebagai dasar sterilisasi atau pengawetan bahan makanan.

Jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan seperti suhu tinggi, kekeringan atau zat-zat kimia tertentu, beberapa spesies dari Bacillus yang aerob dan beberapa spesies dari Clostridium yang anaerob dapat mempertahankan diri dengan spora. Spora tersebut dibentuk dalam sel yang disebut endospora. Endospora dibentuk oleh penggumpalan protoplasma yang sedikit sekali mengandung air. Oleh karena itu endospora lebih tahan terhadap keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan bakteri aktif. Apabila keadaan lingkungan membaik kembali, endospora dapat tumbuh menjadi satu sel bakteri biasa. Letak endospora di tengah-tengah sel bakteri atau pada salah satu ujungnya.

e.        Peranan Bakteri

-          Bakteri Menguntungkan

Bakteri pengurai

Bakteri saprofit menguraikan tumbuhan atau hewan yang mati, serta sisa-sisa atau kotoran organisme. Bakteri tersebut menguraikan protein, karbohidrat dan senyawa organik lain menjadi CO2, gas amoniak, dan senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana. Oleh karena itu keberadaan bakteri ini sangat berperan dalam mineralisasi di alam dan dengan cara ini bakteri membersihkan dunia dari sampah-sampah organik.

Bakteri nitrifikasi

Bakteri nitrifikasi adalah bakteri-bakteri tertentu yang mampu menyusun senyawa nitrat dari amoniak yang berlangsung secara aerob di dalam tanah. Nitrifikasi terdiri atas dua tahap yaitu:

  • Oksidasi amoniak menjadi nitrit oleh bakteri nitrit. Proses ini dinamakan nitritasi.

Reaksi nitritasi

  • Oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat oleh bakteri nitrat. Prosesnya dinamakan nitratasi.

Reaksi nitratasi

Dalam bidang pertanian, nitrifikasi sangat menguntungkan karena menghasilkan senyawa yang diperlukan oleh tanaman yaitu nitrat. Tetapi sebaliknya di dalam air yang disediakan untuk sumber air minum, nitrat yang berlebihan tidak baik karena akan menyebabkan pertumbuhan ganggang di permukaan air menjadi berlimpah.

Bakteri nitrogen

Bakteri nitrogen adalah bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan mengubahnya menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan. Karena kemampuannya mengikat nitrogen di udara, bakteri-bakteri tersebut berpengaruh terhadap nilai ekonomi tanah pertanian. Kelompok bakteri ini ada yang hidup bebas maupun simbiosis. Bakteri nitrogen yang hidup bebas yaitu Azotobacter chroococcum, Clostridium pasteurianum, dan Rhodospirillum rubrum. Bakteri nitrogen yang hidup bersimbiosis dengan tanaman polong-polongan yaitu Rhizobium leguminosarum, yang hidup dalam akar membentuk nodul atau bintil-bintil akar. Tumbuhan yang bersimbiosis dengan Rhizobium banyak digunakan sebagai pupuk hijau seperti Crotalaria, Tephrosia, dan Indigofera. Akar tanaman polong-polongan tersebut menyediakan karbohidrat dan senyawa lain bagi bakteri melalui kemampuannya mengikat nitrogen bagi akar. Jika bakteri dipisahkan dari inangnya (akar), maka tidak dapat mengikat nitrogen sama sekali atau hanya dapat mengikat nitrogen sedikit sekali. Bintil-bintil akar melepaskan senyawa nitrogen organik ke dalam tanah tempat tanaman polong hidup. Dengan demikian terjadi penambahan nitrogen yang dapat menambah kesuburan tanah.

Bakteri usus

Bakteri Eschereria coli hidup di kolon (usus besar) manusia, berfungsi membantu membusukkan sisa pencernaan juga menghasilkan vitamin B12, dan vitamin K yang penting dalam proses pembekuan darah. Dalam organ pencernaan berbagai hewan ternak dan kuda, bakteri anaerobik membantu mencernakan selusosa rumput menjadi zat yang lebih sederhana sehingga dapat diserap oleh dinding usus.

Bakteri fermentasi

Bakteri fermentasi berguna untuk membuat makanan dan minuman contohnya tape, oncom dll.

2.3  Waktu Isolasi

Waktu isolasi kuman yang dilakukan pada medium yang terdapat pada petridish adalah 15 menit. Hal ini dikarenakan waktu 15 menit dianggap cukup baik untuk dapat mewakili keberadaan bakteri yang ada di ruangan tersebut.

Media agar PCA tersebut diletakkan di dalam petridisk .Bentuk petridish adalah bulat ( seperti toples kaca yang tipis ),warnanya bening terbuat dari kaca berdiameter 10 cm.

BAB III

LANGKAH KERJA

3.1  Alat dan Bahan

  • PCA
  • Lampu Bunsen
  • Tungku
  • Spatula
  • Petridish yang telah steril 2 buah
  • Pipet ukur yang telah steril 1 buah
  • Ban penghisap

3.2  Langkah  Kerja Pembuatan Media Agar

  • Sterilkan tempat , alat dan bahan yang digunakan menggunakan alkohol
  • Ambil PCA pada tabung erlenmeyer dari kulkas, kemudian panaskan PCA menggunakan lampu Bunsen hingga mendidih
  • Ambil PCA menggunakan pipet ukur 10 ml dengan mengunakan ban penghisap
  • Kemudian masukkan ke dalam petridish
  • Kemudian diamkan hingga membeku, setelah itu bungkus rapi kembali, kemudian masukan petridish tersebut ke dalam alat inkubasi dengan suhu 35-37 oC selama

2 x 24 jam ( posisi petridish dalam kondisi terbalik )

BAB IV

HASIL KEGIATAN

4.1 Waktu  Pelaksanaan

Hari                 : Selasa

Tanggal           : 11 Januari 2011

Pukul               : 9.00 WIB s/d selesai

4.2 Lokasi Kegiatan

Kegiaan praktikum clinical Instrucure ini di laksanakan di kampus kementerian kesehatan republik indonesia politeknik kesehatan jambi jurusan kesehatan lingkungan.

4.3 Hasil Kegiatan

4.3.1 Deskripsi keadaan ruangan

1.  Ruang kelas tingkat 1

-          Ukuran bangunan

P : 1178 cm

L : 795 cm

T : 302 cm

-          Ukuran pentilasi

P : 222 cm

L : 60 cm

-          Memiliki kipas angin, tetapi tidak berfungsi.

-          Lampu menyala.

-          Ruangan sedikit kotor (ada sampah).

  1.  Ruang Laboratolium

-          Ukuran bangunan

P :  983 cm

L :  582 cm

T :  325 cm

-          Ukuran pentilasi

P :  235 cm

L :  60 cm

-          Lampu hidup

-          Ruangan bersih

  1. Wc Dosen / Kantor

-          Ukuran bangunan

P :  340 cm

L :  90 cm

T :  312 cm

-          Ukuran fentilasi

P :  80 cm

L :  8 cm

-          Lampu mati.

4.3.2 Hasil Pengamatan laboratorium

Control :  4 koloni

1.  Ruang kelas tingkat1

Petridish 1 = 31 koloni

Petridish 2 =  26 koloni

Jadi :  (j.petridish 1-control)+(j.petridish 2-control) : waktu pengambilan

j. petridish

Jumlah koloni kuman di ruang kelas 1= (31-4)+(26-4) : 15

2

=  ( 49/ 2 ): 15

= 1,633 koloni kuman / menit

 

 

  1. Ruang laboratolium

petridish 1 =  20 koloni

petridish 2 =  16 koloni

Jadi :  (j.petridish 1-control)+(j.petridish 2-control) : waktu pengambilan

j. petridish

Jumlah koloni kuman di ruang tingkat 1   = (20-4)+(16-4) : 15

2

=  ( 16+ 12 / 2 ): 15

= 14 : 15

= 0,93  koloni kuman / menit

  1. Wc dosen / kantor

Petridish 1 =  22 koloni

Petridish 2  =  49 koloni

Jadi :  (j.petridish 1-control)+(j.petridish 2-control) : waktu pengambilan

j. petridish

Jumlah koloni kuman di ruang wc dosen = (22-4)+(49-4) : 15

2

=  ( 18+ 45 / 2 ): 15

= ( 63 / 2 ) : 15

= 2,1  koloni kuman / menit

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil pengamatan di lapangan dan pemeriksaan di laboratorium di dapatkan hasil bahwa:

  1.  Ruang kelas 1,633 koloni koloni/ menit
  2. Ruang laboratolium 0,93koloni/menit
  3. Wc dosen/ kantor 2,1 koloni/menit

5.2 Saran

Kepada seluruh perangkat kampus diharapkan lebih menjaga kebersihan dan keehatan setiap kelas, karena angka kuman diudara juga dapat dipengaruhi dari aktifitas manusia .

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro.2005. DASAR-DASAR MIKROBIOLOGI. Surabaya. Djambatan

http://www.WIKIPEDIA.com( diakses tanggal 13 januari 2011)

BAKTERI DIUDARA “http://id.wikipedia.org/wiki/bakteri ( diakses tanggal 13 januari 2011)

Abatisasi Selektif ( Pemantauan Jentik )

Filed under: Uncategorized — noviakl10jambi @ 5:17 pm

BAB I

Pendahuluan

1.1  Latar Belakang

Aedes Aegypti merupakan faktor utama penyakit demam berdarah dengeu (DBD) dan Chikungunya. Di Indonesia telah dilaporkan semua daerah perkotaan telah ditemukan adanya nyamuk tersebut. Faktor penting bagi penyebaran nyamuk tersebut adalah transportasi dan banyaknya perpindahan penduduk. Spesies Aedes Aegypti merupakan nyamuk yang mempunyai habitat di pemukiman dan habitat stadium pradewasanya pada bejana buatan yang berada di dalam ataupun di luar rumah yang airnya relatif jernih. Di Jakarta, jentik Aedes Aegypti ditemukan di tempat penampungan air seperti vas bunga, tempayan, drum yang terbuat dari plastik ataupun besi, bak mandi bahkan tanah padat yang terdapat pada pot tanaman yang mengeras, dan tempat minum burung.

Berbagai cara pengendalian vektor telah dilakukan, yaitu nyamuk dewasa dengan pengasapan (fogging) dan stadium pradewasa dengan menggunakan bubuk Abate serta pemberantasan nyamuk yang dikenal dengan PSN. PSN merupakan cara yang lebih aman, murah dan sederhana. Oleh sebab itu kebijakan pemerinytah dalam pengendalian vektor DBD menitik bertakan pada program PSN ini, walaupun cara tersebut sangat tergantung pada peran serta masyarakat.

Demam berdarah merupakan salah satu penyakit menular yang kini telah menyebar luas dengan angka kesakitan berkisar 14% per 100 penduduk dan CFR 4% sehingga berpotensi untuk menimbulkan kegelisahan dan membuat pamik masyarakat banyak karena menyerang anak-anak golongan umur <15 tahun

Banyak usaha pemberantasan nyamuk telah dilakukan oleh pemerintah seperti pengasapan (fogging), penebaran abate (abatisasi) dan PSN. Meskipun demikian angka indeks jentik dan jumlah kasus terus meningkat dan tanpa dukungan dari masyarakat usaha tersebut tidak akan berhasil. Hal ini manarik untuk diteliti, apakah ada perbedaan kepadatan larva pad kelompok abatisasi dengan kelompok tanpa abatisasi.

Untuk itu perlu diteliti nilai kepadatan larva nyamuk Aedes pada masing-masing kelompok penelitian dengan memeriksa kontainer yang berisi air. setelah data hasil penelitian diolah dan dianalisa, ternyata diperoleh nilai rata-rata indeks jentik pada kelompok abatisasi yaitu HI 6,015%, CI 4,015% dan BI 7,75% per 100 rumah sedangkan kelompok tanpa abatisasi yaitu HI 22%, CI 12,995% dan BI 26,25% per 100 rumah. Untuk membuktikan apakah ada perbedaan kepadatan larva nyamuk Aedes pada kelompok abatisasi dengan kelompok tanpa abatisasi, perlu diuji secara statistik.

Hasil uji statistik membuktikan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara kepadatan lerba nyamuk kelompok abatisasi dengan kelompok tanpa abatisasi.

1.2  Tujuan

Tujuan dari praktikum ini  adalah untuk memantau jentik nyamuk dengan cara abatisasi selektif.

1.3  Ruang Lingkup

Ruang lingkup pelaksanaan pelaksanaan abatisasi selektif ( pemantauan jentik )ini hanya mencakup wilayah RT.16 kelurahan pematang sulur kecamatan simpang IV sipin.

BAB II
Tinjauan Teori

2.1 Perilaku Aedes Aegypti

Aedes sp. mempunyai habitat pada tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, drum air, tempayan, ember, kaleng bekas, vas bunga, botol bekas, potongan bambu, aksila daun dan lubang-lubang yang berisi air jernih.
Menurut hasil pengamatan yang dilakukan di Kelurahan Papanggo, Kodya Jakarta Utara khususnya tempat penampungan air (TPA) rumah tangga menunjukkan bahwa TPA yang paling banyak ditemukan jentik dan pupa nyamuk Aedes Aegypti adalah jenis tempayan yang terbuat dari tanah dan drum besar . Kemungkinan penyebabnya adalah karena TPA seperti tempayan mempunyai resiko pecah bila dikuras,selain karena volumenya besar sehingga sulit dikuras. Alasan semacam ini juga berlaku di wilayah lain. Di Singapura pada tahun 1996 telah dilakukan penelitian habitat breeding places Aedes dengan hasil dteksi sebagai berikut :

  • Habitat di rumah tangga sebesar 21,9% yang terdiri dari ember, drum, tempayan, baskom
  • Barang bekas yang berisi air 18,7%
  • Tempat air untuk tanaman hias antara lain vas bunga dan pot tanaman 17%
  • Lekukan lantai 8,7%
  • Terpal/plastik 8,3%

Di daerah perkotaan habitat nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sangat bervariasi, tetapi 90% ditemukan pada wadah-wadah buatan manusia. Fay. dkk menyatakan bahwa ovitrap rancangannya dapat dipergunakan sebagai alat pemantau populasi Aedes aegypti yang bersifat sederhana, murah, cepat dan mudah, terutama bagi daerah yang padat

Populasi vektornya rendah.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku Aedes aegyti  meletakkan telurnya antara lain jenis dan warna penampungan air, airnya sendiri, suhu kelembaban dan kondisi lingkungan setempat. Maka berdasarkan kepada sifat dan perilaku nyamuk Aedes aegypti tersebut diatas, ovitrap memenuhi persyaratan habitat dan perilaku nyamuk agar dapat dipakai sebagai perangkap telur yang baik sehingga berfungsi secara optimal. Perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti tidak tergantung pada musim hujan, walaupun jumlah kasus Demam Berdarah di Indoensia kelihatannya bertambah selama musim penghujan.

Di Indonesia, nyamuk Aedes aegypti umumnya memiliki habitat di lingkungan perumahan, di mana terdapat banyak genangan air bersih dalam bak mandi ataupun tempayan. Oleh karena itu, jenis ini bersifat urban, bertolak belakang dengan Aedes albopictus yang cenderung berada di daerah hutan berpohon rimbun (sylvan areas).

Di Indonesia, nyamuk Aedes aegypti umumnya memiliki habitat di lingkungan perumahan, di mana terdapat banyak genangan air bersih dalam bak mandi ataupun tempayan. Oleh karena itu, jenis ini bersifat urban, bertolak belakang dengan Aedes albopictus yang cenderung berada di daerah hutan berpohon rimbun (sylvan areas).

Nyamuk Aedes aegypti, seperti halnya culicines lain, meletakkan telur pada permukaan air bersih secara individual. Telur berbentuk elips berwarna hitam dan terpisah satu dengan yang lain. Telur menetas dalam 1 sampai 2 hari menjadi larva. Terdapat empat tahapan dalam perkembangan larva yang disebut instar. Perkembangan dari instar 1 ke instar 4 memerlukan waktu sekitar 5 hari. Setelah mencapai instar ke-4, larva berubah menjadi pupa di mana larva memasuki masa dorman. Pupa bertahan selama 2 hari sebelum akhirnya nyamuk dewasa keluar dari pupa. Perkembangan dari telur hingga nyamuk dewasa membutuhkan waktu 7 hingga 8 hari, namun dapat lebih lama jika kondisi lingkungan tidak mendukung.

Telur Aedes aegypti tahan kekeringan dan dapat bertahan hingga 1 bulan dalam keadaan kering. Jika terendam air, telur kering dapat menetas menjadi larva. Sebaliknya, larva sangat membutuhkan air yang cukup untuk perkembangannya. Kondisi larva saat berkembang dapat mempengaruhi kondisi nyamuk dewasa yang dihasilkan. Sebagai contoh, populasi larva yang melebihi ketersediaan makanan akan menghasilkan nyamuk dewasa yang cenderung lebih rakus dalam mengisap darah. Sebaliknya, lingkungan yang kaya akan nutrisi menghasilkan nyamuk-nyamuk.

 

2.2 Morfololgi

Nyamuk Aedes aegypti dewasa memiliki ukuran sedang dengan tubuh berwarna hitam kecoklatan. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik dengan gari-garis putih keperakan. Di bagian punggung (dorsal) tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal di bagian kiri dan kanan yang menjadi ciri dari spesies ini. Sisik-sisik pada tubuh nyamuk pada umumnya mudah rontok atau terlepas sehingga menyulitkan identifikasi pada nyamuk-nyamuk tua. Ukuran dan warna nyamuk jenis ini kerap berbeda antar populasi, tergantung dari kondisi lingkungan dan nutrisi yang diperoleh nyamuk selama perkembangan. Nyamuk jantan dan betina tidak memiliki perbedaan dalam hal ukuran nyamuk jantan yang umumnya lebih kecil dari betina dan terdapatnya rambut-rambut tebal pada antena nyamuk jantan. Kedua ciri ini dapat diamati dengan mata telanjang.

2.3 Perilaku dan Siklus Hidup

Aedes aegypti bersifat diurnal atau aktif pada pagi hingga siang hari. Penularan penyakit dilakukan oleh nyamuk betina karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. Hal itu dilakukannya untuk memperoleh asupan protein yang diperlukannya untuk memproduksi telur. Nyamuk jantan tidak membutuhkan darah, dan memperoleh energi dari nektar bunga ataupun tumbuhan. Jenis ini menyenangi area yang gelap dan benda-benda berwarna hitam atau merah. Demam berdarah kerap menyerang anak-anak karena anak-anak cenderung duduk di dalam kelas selama pagi hingga siang hari dan kaki mereka yang tersembunyi di bawah meja menjadi sasaran empuk nyamuk jenis ini.

Infeksi virus dalam tubuh nyamuk dapat mengakibatkan perubahan perilaku yang mengarah pada peningkatan kompetensi vektor, yaitu kemampuan nyamuk menyebarkan virus. Infeksi virus dapat mengakibatkan nyamuk kurang handal dalam mengisap darah, berulang kali menusukkan proboscis nya, namun tidak berhasil mengisap darah sehingga nyamuk berpindah dari satu orang ke orang lain. Akibatnya, risiko penularan virus menjadi semakin besar.

Di Indonesia, nyamuk Aedes aegypti umumnya memiliki habitat di lingkungan perumahan, di mana terdapat banyak genangan air bersih dalam bak mandi ataupun tempayan. Oleh karena itu, jenis ini bersifat urban, bertolak belakang dengan Aedes albopictus yang cenderung berada di daerah hutan berpohon rimbun (sylvan areas).

Nyamuk Aedes aegypti, seperti halnya culicines lain, meletakkan telur pada permukaan air bersih secara individual. Telur berbentuk elips berwarna hitam dan terpisah satu dengan yang lain. Telur menetas dalam 1 sampai 2 hari menjadi larva. Terdapat empat tahapan dalam perkembangan larva yang disebut instar. Perkembangan dari instar 1 ke instar 4 memerlukan waktu sekitar 5 hari. Setelah mencapai instar ke-4, larva berubah menjadi pupa di mana larva memasuki masa dorman. Pupa bertahan selama 2 hari sebelum akhirnya nyamuk dewasa keluar dari pupa. Perkembangan dari telur hingga nyamuk dewasa membutuhkan waktu 7 hingga 8 hari, namun dapat lebih lama jika kondisi lingkungan tidak mendukung.

Telur Aedes aegypti tahan kekeringan dan dapat bertahan hingga 1 bulan dalam keadaan kering. Jika terendam air, telur kering dapat menetas menjadi larva. Sebaliknya, larva sangat membutuhkan air yang cukup untuk perkembangannya. Kondisi larva saat berkembang dapat mempengaruhi kondisi nyamuk dewasa yang dihasilkan. Sebagai contoh, populasi larva yang melebihi ketersediaan makanan akan menghasilkan nyamuk dewasa yang cenderung lebih rakus dalam mengisap darah. Sebaliknya, lingkungan yang kaya akan nutrisi menghasilkan nyamuk-nyamuk.

2.4 Pengendalian Vektor

Cara yang hingga saat ini masih dianggap paling tepat untuk mengendalikan penyebaran penyakit demam berdarah adalah dengan mengendalikan populasi dan penyebaran vektor.

2.4.1 Gerakan 3M

Program yang sering dikampanyekan di Indonesia adalah 3M, yaitu menguras, menutup, dan mengubur.

  • Menguras bak mandi, untuk memastikan tidak adanya larva nyamuk yang berkembang di dalam air dan tidak ada telur yang melekat pada dinding bak mandi.
  • Menutup tempat penampungan air sehingga tidak ada nyamuk yang memiliki akses ke tempat itu untuk bertelur.
  • Mengubur barang bekas sehingga tidak dapat menampung air hujan dan dijadikan tempat nyamuk bertelur.

Selain itu, kita hendaknya menutup lubang-lubang pagar (pagar bambu) dengan tanah atau adukan semen agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Melipat pakaian yang bergantungan dalam kamar agar nyamuk tidak hinggap dan bersembunyi di tempat tersebut.

Penggunaan insektisida yang berlebihan tidak dianjurkan, karena sifatnya yang tidak spesifik sehingga akan membunuh berbagai jenis serangga lain yang bermanfaat secara ekologis. Penggunaan insektisida juga akhirnya memunculkan masalah resistensi serangga sehingga mempersulit penanganan di kemudian hari.

2.4.2 Abatisasi

Pencegahan demam berdarah yang paling ampuh adalah dengan memberantas nyamuk Aedes Aegypty. Hal ini dapat dilakukan dengan meniadakan genangan-genangan air, terutama air bersih. Di samping itu, cara lain yang juga tidak kalah ampuh ialah abatisasi, yaitu menaburkan bubuk Abate pada tempat-tempat penampungan air.

Dokter Spesialis Patologi Klinik, dr. Willy Anthony Ignatius Wullur, Sp.PK mengungkap, abatisasi termasuk salah satu cara yang ampuh untuk memutuskan siklus kehidupan atau mata rantai dari nyamuk Aedes Aegypty. “Seperti kita ketahui penyakit demam berdarah itu ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypty. Nyamuk ini biasanya bertelur digenangan air bersih seperti bak mandi atau tempat penampungan air lainnya. Dengan menaburkan bubuk Abate ke tempat-tempat tersebut, akan bisa membunuh jentik-jentik nyamuk “ katanya

Dokter Willy juga mengatakan, abatisasi sangat efektif membasmi jentik nyamuk Aedes Aegypty. Caranya, Abate 1% yang ditaburkan ke dalam penampungan air dengan takaran 1 gram untuk 10 liter air. “Abate ini dijual bebas dan bisa dibeli di apotik atau toko abat. Biasanya pihak Dinas Kesehatan juga menyediakan bubuk Abate ini “ tambahnya
Untuk abatisasi kata Dokter yang praktek di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam ini, bisa diulang setiap 2 sampai 3 bulan. Keampuhan Abate ini bisa efektif sampai dua bulan dalam bak yang tidak dikuras. “Sedangkan Abate ini sendiri adalah suatu larvasida (pembunuh larva) yang efektif untuk memberantas jentik segala macam nyamuk. Walaupun beracun untuk jentik nyamuk, namun Abate tidak berbahaya untuk manusia dan ikan. Karena itu tidak perlu khawatir menggunakannya walaupun memilki balita “ paparnya.

Tapi yang harus diketahui, abatisasi hanya perlu dilakukan pada tempat-tempat air tergenang, seperti bak mandi, jambangan bunga, dan selokan kecil yang airnya tergenang. Jadi Abate hanya efektif digunakan untuk wadah-wadah air yang lebih kecil volumenya, seperti bak mandi dan tempat penampungan air lainnya.Abate tidak bermanfaat ditaburkan pada air mengalir. Selain itu Abate tidak cocok digunakan untuk sumur.

Juga perlu diketahui, pengertian bahwa Abate dapat membunuh virus penyakit demam berdarah adalah salah. Karena Abate hanya membunuh jentik nyamuk, bukan virus penyebab penyakit demam berdarah. “Tindakan abatisasi ini sendiri, sebenarnya juga bukan ditujukan untuk membunuh nyamuk dewasa tetapi membunuh jentik-jentiknya. Tindakan ini dilakukan untuk memutuskan mata rantai perkembangbiakan nyamuk tersebut “ jelasnya

Agar usaha dapat mencapai hasil maksimal abatisasi sebaiknya dilakukan secara serempak oleh warga dari suatu wilayah atau daerah.

2.5 Istilah Dalam Pengamatan Vektor

Index-index larva

Penentuan Index Larva dapat dilakukan dengan cara :

1.      Hause Index                :% rumah dimana ditemukan sarang-sarang Aedes Aegyti di suatu Hourse index inilah yang di maksud sebagai Aedes

Aegypti index  di dalam International Health Regulation.

  1. Container Index          :% Container yang menjadi sarang Aedes Aegypti di suatu

Daerah.

3.                                                                                    Bretiau Index           :Jumlah container yang menjadi sarang Aedes Aegypti per 100  rumah di suatu daerah

Menurut departemen kesehatan (Tahun 2003) persentase bebas jentik dari 100 rumah harus lah 95 %.

BAB III

Langkah Kerja

3.1 Alat dan Bahan

  • Senter
  • Bubuk ABATE
  • Blanko Abatisasi
  • Alat tulis

3.2 Langkah Kerja

  1. Periksa setiap container yang ada di setiap rumah yang ada di dalam lingkungan RT yang tela dientukan oleh puskesmas
  2. Amati setiap container yang ditemukan ( bila perlu menggunakan senter ), apakah di dalam container tersebut terdapat jentik nyamuk
  3. Catat setiap container yang ada di setiap rumah pada blanko, serta catat container yang di dalamnya di temukan jenik nyamuk
  4. Bila terdapat jentik nyamuk , berikan bubuk ABATE kepada pemilik rumah unutk di letakkan pada wadah penampungan air

BAB IV

Hasil Kegiatan

4.1 Waktu Pelaksanaan

Hari                 : Senin

Tanggal           : 21 Desember 2010

Pukul               : 10.00 WIB sampai dengan selesai

4.2 Lokasi Kegiatan

Kegiaan praktikum clinical Instrucure ini di laksanakan di wilayah kerja puskesmas simpang IV sipin tepatnya di RT. 16 kelurahan pematang sulur kecamatan simpang IV sipin Jambi

4.3 Hasil Kegiatan

Hasil kegiatan pemantauan jentik nyamuk di rumah warga terdapat diblanko sebagai berikut

4.1 Permasalahan

Dari praktek Pelaksanaan Abatisasi Selektif ( Pemantauan Jentik ) yang dilaksanakan di RT.16 kelurahan pematang sulur kecamatan simpang IV sipin Jambi, ditemukan masalah antara lain :

  1. Dari praktek Clinical Instructure (CI) yang telah dilaksanakan di RT.16 kelurahan pematang sulur kecamatan simpang IV sipin Jambi dari 250 KK, yang bersedia di pantau jentik nyamuknya sebanyak 47 KK. Sehingga data yang diambil kurang mewakili keadaan jentik nyamuk yang sebenarnya di wilayah RT tersebut. Hal ini di karenakan sebagian penduduk tidak bersedia di pantau jentiknya dengan alasan tempat mereka sudah bersih. Penyebab lainnya karena penghuni rumah sedang tidak berada di rumah.
  2. Dari hasil pemantauan jentik nyamuk yang telah  dilaksanakan di dapatkan data sebesar 27,66% dari jumlah data rumah yang berhasil kami datangi terdapat jentik nyamuk. Dari data ini menunjukan populasi nyamuk tinggi, karena menurut departemen kesehatan angka persentase bebas jentik dari 100 rumah harus lah 95 %. Sedangkan dari data yang berhasil di ambil persentase bebas jentik sebesar 72,34 %. Sehingga potensi di daerah tersebut  untuk terjangkit demam berdarah cukup tinggi.

4.2 Pemecahan Masalah

Dari masalah-masalah yang ditemukan solusi yang dapat dilakukan adalah :

  1. Masyarakat hendaknya sadar bahwa pemantauan jentik secara berkala sangat penting. Karena hal ini bertujuan untuk memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti. Sehingga potensi kasus demam berdarah dapat diminimalisir.
  2. Masyarakat hendaknya meningkatkan PSN disetiap rumah dan  melaksanakan gerakan 3 M (menguras, menutup, dan mengubur ) sehingga container yang ada di rumah warga tidak menjadi sarang jentik nyamuk. Hal lain yang dapat dilakukan untuk memutuskan mata rantai perkembang biakan nyamuk aedes aegyph adalah dengan pemberian bubuk abate

BAB V

Penutup

5.1 Kesimpulan

Pemantauan jentik dilakukan untuk mengetahui populasi perkembangan nyamuk Aedes Aegypti. Sehingga dapat dilakukan upaya untuk memutus mata rantai perkembangan nyamuk Aedes Aegypti dengan ABATISASI.

Dari hasil pemantauan jentik yang telah dilaksanakan di RT.16 kelurahan pematang sulur kecamatan simpang IV sipin Jambi , didapatkan hasil bahwa 27,66 % dari data yang berhasil didapatkan terdapat jentik nyamuk. Hal ini menunjukan bahwa populasi jentik nyamuk tinggi.Persentase hasil tersebut masih menunjukan kerentanan terhadap merebaknya kasus demam berdarah di RT. 16.

5.2 Saran

A. Untuk Masyarakat

  • Ketua RT beserta perangkatnyya bersama masyarakat membudayakan gotong-royong setiap minggunya, untuk membersikan got-got serta tempat-tempat yang memungkinkan jentik nyamuk dan nyamuk bersarang. Sehingga lingkungan dapat bersih
  • Budaya 3M mulai dibudidayakan oleh masyarakat, sehingga populasi nyamuk dapat diminimalisir dan kasus demam berdarah dapat dicegah
  • Bila perlu gunakan bubuk ABATE secara berkala

B. Untuk Tenaga Kesehatan

Pemantauan jentik secara berkala serta pelaksanaan ABATISASI selektif terus dilakukan dengan begitu jumlah populasi nyamuk Aedes Aegypti dapat diminimalisir. Sehingga kasus demam berdarah dapat di cegah.

 

Daftar Pustaka

Irawati-indiani retno,dyah” PELAKSANAAN ABATISASI KAITANNYA DENGAN KEPADATAN LARVA NYAMUK AEDES (VEKTOR DBD)http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx=214( diakses tanggal 31 Desember 2010)

Ensiklopedia bebas “ Aedes Aegypti “http://id.wikipedia.org/wiki/Aedes_aegypti ( diakses tanggal 31 desember 2010 )

Fahmi,febri“ pemeriksaan jentik “http://www.docstoc.com/docs/20753000/Pemeriksaan-Jentik-Berkala ( diakses tanggal 31 desember 2010 )

Sudjain,Chasan.1985. Pemberantasan Serangga & Binatang Pengganggu. Jakarta.Departemen Kesehatan RI

Pengambilan Sampel Air Pada Sumur gali secara Fisik

Filed under: Uncategorized — noviakl10jambi @ 5:14 pm

BAB I

PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Air adalah bagian dari kehidupan di permukaan bumi. Bagi kehidupan mahluk hidup air bukan merupakan hal yang baru, karena kita ketahui bersama tidak satupun kehidupan dimuka bumi ini dapat berlangsung tanpa adanya air. Oleh karena itu, air dikatakan sebagai benda mutlak yang harus ada dalam kehidupan manusia. Air merupakan unsur penting bagi kehidupan di muka bumi ini. Air adalah senyawa yang mempunyai sifat biologis dan struktur sifat istimewa. Ion OH־ dan H air sangat menentukan sifat biologis dan struktur molekul senyawa yang ada di dalam nya. Seperti protein, lipida dan banyak lagi komponen lain dalam sel.

Air sehat yakni air yang dapat diminum. Air sehat dapat dilihat dari aspek fisik, kimia dan mikrobiologi. Secara fisik, air sehat ialah air yang jernih, tidak berbau dan tidak berasa. Secara kimia air sehat adalah air yang kadar Ph nya netral dan kandungan-kandungan tertentu ada batasannya. Sedangkan secara mikrobiologi, air sehat ialah air yang tidak mengandung mikroba penyebab penyakit. Misalnya bakteri E coli.

Mengingat pentingnya air bagi kehidupan manusia, masyarakat berupaya untuk membangun sarana-sarana air bersih baik berupa yang sederhana seperti sumur gali maupun sumur pompa tangan, sampai dengan perpipaan. Dengan harapan air yang akan digunakan oleh masyarakat nanti benar-benar memenuhi standar, baik dari kualitas maupun kuantitas.

Akan tetapi berbagai macam upaya yang telah dilakukan untuk pembangunan sarana air bersih, masalah yang berkaitan dengan kebutuhan air bersih masih saja tmibul. Hal ini dimungkinkan dengan penggunaan air bagi kebutuhan sehari-hari dari sumber-sumber yang mudah menularkan penyakit, misalnya dari air sungai dan air sumur gali yang tidak memenuhi syarat. Kemudian penggunaan dan pemanfaatan atau pembuatan sumur gali itu belum memenuhi syarat kesehatan, seperti jarak sumur dengan sumber pencemar ataupun dari segi konstruksinya masih belum memenuhi syarat sumur gali yang sehat. Keadaan seperti ini akan mengakibatkan air yang dihasilkan mudah tercemar dari lingkungan sekitar, dalam hal ini akan mengakibatkan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air. Salah satu pencemar yang mungkin ada dari keadaan seperti itu adalah bakteri coli, khususnya coli tinja.

1.2   Tujuan

Kegiatan praktek ini bertujuan untuk mengetahui pengambilan dan pengiriman sampel air bersih pada sumur gali secara fisik.

1.3   Ruang Lingkup

Laporan praktek Clinical Instructure ini hanya mengenai pengambilan dan pengiriman sampel air bersih pada sumur gali secara fisik hanya mencakup sumur gali yang berada di jalan simpang ajai RT.25 kelurahan linggar selatan kecamatan jambi selatan.

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1      Peranan air bersih bagi kehidupan

Air bersih merupakan salah satu kebutuhan pokok mahluk hidup, oleh karena itu air sangat besar manfaatnya terhadap kehidupan manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan.

Pentingnya air dalam tubuh manusia adalah sebagai berikut :

  1. Apabila suatu saat tubuh kehilangan seluruh cadangan lemak dan juga setengah cadangan protein hal ini tidak membahayakan bagi tubuh manusia. Namun, apabila terjadi kehilangan sekitar 20% saja air dalam tubuh bisa mengakibatkan kematian. Tubuh manusia terdiri dari air sekitar 70%.
  2. Bila dalam musim kemarau merasa kekurangan air hal itu wajar, memang pada saat itu sulit sekali diperoleh air. Karena jumlahnya sedikit. Air yang dibutuhkan manusia sebenarnya bukan sembarang air, tetapi air yang benar-benar baik dan sehat yang tidak berbahaya bagi kesehatan tubuh.

2.2  Peranan air terhadap penularan penyakit

Air mempunyai peranan yang sangat besar dalam penularan beberapa penyakit menular. Besarnya peranan air terhadap penularan penyakit disebabkan keadaan air itu sendiri sangat membantu dan sangat baik untuk kehidupan mikroorganisme.

Air dapat berperan sebagai tempat berkembang biaknya mikroorganisme dan juga sebagai tempat sementara atau perantara sebelum mikroorganisme berpindah pada manusia. Sementara itu mikroorganisme yang hidup di air kususnya bakteri terdiri dari 2 jenis yaitu pathogen dan non pathogen seperti : golongan patogen adalah : vibrio cholerae, salmonella tyipi, shigella shigae, golongan nonpatogen adalah coliform bacteria, dan bakteri besi.

Berbagai jenis penyakit banyak ditularkan oleh air terutama penyakit seperti thypus, kolera, dan disentri dengan jasad penyebab salmonella thypi, salmonella para thypi, vibrio, cholearae, dan shigella shigae.

2.3  Syarat-syarat air bersih

Peraturan menteri Kesehatan No.416/MenKes/Per/IX/1990 memberi pengertian sebagai berikut : ” Air bersih adalah air yang dijadikan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila sudah dimasak ”.

Syarat air bersih meliputi 2 aspek yaitu kualitas dan kuantitas, jadi air bersih dikatakan memenuhi persyaratan bila kedua aspek tersebut terpenuhi.

  1. Aspek kuantitatif yaitu air tersebut harus memenuhi jumlah kebutuhan sehari-hari. Pemakaian rata-rata perorang perhari antara satu negara dengan negara lain antara desa dengan desa lain sangat bervariasi. Variasi ini tergantung beberapa hal antara lain besar kecilnya daerah, ada atau tidaknya industri, harga air dan iklim daerah tersebut. Kebutuhan air untuk masyarakat pedesaan 6 L/org/hari, sedangkan perkotaan 150 L/org/hr.
  2. Aspek kualitatif adalah selain air bersih memenuhi syarat kuantitatif, dari segi kualitatif pun harus memenuhi syarat kesehatan. Di Indonesia standar kualitas air dalam peraturan menteri kesehatan RI. Dalam hal ini ditetapkan syarat-syarat kualitas air minum, air pemandian, air bersih dan air kolam renang. Ruang lingkup peraturan tersebut meliputi persyaratan fisik, kimia, dan radioaktivitas.

2.4  Persyaratan Sumur Gali

Sumur gali merupakan salah satu cara untuk mendapatkan air tanah yang sering dilakukan oleh masyarakat terutama masyarakat pedesaaan, karena proses pembuatannya yang mudah dan dapat dilakukan oleh masyarakat itu sendiri dengan peralatan yang sederhana dan biaya yang murah. Syarat – syarat sumur gali :

  1. Syarat lokasi pembuatan sumur

§  Untuk menghindari pencemaran langsung harus memperhatikan jarak antara sumur dengan kasus, dengan lobang sampah dan dengan lobang galian untuk air limbah, jaraknya adalah 10 m dan diusahakan agar letaknya tidak berada dibawah tempat-tempat sumber pencemaran.

§  Di buat di tempat yang ada artinya didalam tanah

§  Jangan dibuat ditanah yang rendah yang mungkin terendam bila terjadi banjir atau hujan.

  1. Syarat Konstruksi

§  Dinding sumur 3m dalamnya dari permukaan tanah dan dibuat dari tembok yang tidak tembus air, sehingga tidak terjadi rembesan.

§  Kedalaman sumur dibuat sampai mencapai lapisan tanah yang banyak mengandung air.

§  Diatas tanah dibuat tembok (bibir sumur) yang kedap air 20-70 cm untuk mencegah pengotoran dari permukaan dan untuk keselamatan sipemakai.

§  Dasar sumur diberi karikil agar airnya tidak keruh apabila ditimba.

§  Saluran pembuangan air limbah disekitas sumur dibuatnya dari tembok yang kedap air yang panjangnya minimal 10m atau dibuat lobang dengan menggali tanah sepanjang 10 m atau lebih.

§  Jagalah selalu kebersihan alat atau bangunan sumur gali dengan baik atau teratur.

2.5         Syarat- syarat air sehat secara fisik

a.    Bau

Bau adalah sebuah sifat yang menempel pasa sebuah benda yang diakibatkan adanya zat organik ataupun anorganik yang tercampur didalam air, umumnya dengan konsentrasi yang sangat rendah, yang manusia terima dengan indera penciuman. Pengukuran bau bersifat subjektif dengan respon organoleptik. Bau dapat berupa bau enak maupun tak enak.

b.    Warna

Warna di dalam air terbagi dua, yakni warna semu (apparent color) adalah warna yang disebabkan oleh partikel-partikel penyebab kekeruhan (tanah, pasir, dll), partikel halus besi & mangan, partikel-partikel mikroorganisme, warna industri, dll.

Warna sejati (true color) adalah warna yang berasal dari penguraian zat organik alami, yakni humus, lignin, tanin dan asam organik lainnya. Penghilangan warna secara teknik dapat dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya: koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, oksidasi, reduksi, bioremoval, terapan elektro, dsb.

2.6       Ph air

Pada dasarnya nilai pH menunjukkan apakah air memiliki kandungan padatan rendah atau tinggi. Ph dari air minum adalah 7. Secara umum, air dengan nilai pH lebih dari 7 dianggap basa. Nilai pH normal untuk air permukaan biasanya antara 6,5 s/d 8,5. Sedangkan air tanah dari 6 s/d 8,5.

Alkalinitas adalah ukuran kapasitas air untuk bertahan dari perubahan Ph yang mungkin terjadi dan membuat air menjadi lebih asam. Secara umum air dengan pH rendah (<6,5) berupa asam, mengandung padatan rendah dan korosif. Air seperti ini mengandung ion logam. Seperti besi, mangan, tembaga, timbal dan seng atau dengan kata lain logam beracun tingkatan tinggi. Cara utama untuk menyelesaikan pH ini ialah dengan menggunakan penetralisir. Kimia penetralisir ialah soda api.

Air dengan nilai Ph>8,5 mengindikasi air mengandung padatan tinggi. Tidak menyebabkan resiko pada kesehatan, tetapi dapat menimbulkan masalah pada keindahan.

BAB III

LANGKAH KERJA

3.1 Alat dan Bahan

Alat :

-          Botol Sampel

-          Kain Lap/Tissue

-          pH meter digital merek lutron

-          Tas Pembawa

-          Kertas Lakmus

Bahan :

-          Sampel air sumur gali

3.2 Langkah Kerja

  • Persiapkan alat dan bahan
  • Ambil lah air sumur gali dengan menggunakan ember timba atau alat apa saja yang dapat digunakan untuk mengambil air di dalam sumur gali
  • Siapkan satu botol sampel untuk mengambil air di dalam satu sumur gali
  • Setelah botol terisi penuh, tempel lah botol sampel dengan menggunakan kertas label dengan ketentuan yang ada. Catat data-data yang dibutuhkan. Lakukanlah hal demikian di sumur gali yang lain
  • Setelah semuanya selesai dilakukan, segera bawa botol sampel ke laboraturium
  • Selanjutnya, periksalah kondisi fisik air dalam botol sampel tersebut. Yakni dengan memeriksa warna, bau, rasa, & kekeruhan. Serta mengukur pH air dengan menggunakan pH meter digital merek lutron. Dengan cara memasukkan  Fotosel yang ada pada pH  meter tersebut ke dalam botol sample. Kemudian tekan tombol ON pada pH meter. Diam kan sejenak sampai PH meter itu menunjukkan berapa angka pH air tersebut. Lakukan perlakuan tersebut pada botol-botol sampel yang lain
  • Selain menggunakan pH meter dapat juga menggunakan kertas lakmus, dengan petunjuk yang ada pada wadah kertas lakmus tersebut

BAB IV

HASIL KEGIATAN

3.1 Waktu Pelaksanaan

Hari                 :    Selasa

Tanggal         :    30 November 2010

Pukul             :    10.00 WIB sampai dengan selesai

3.2 Lokasi Kegiatan

Lokasi kegiatan praktek clinical instructure (CI) ini dilaksanakan di Jalan Simpang Ajai Kelurahan Lingkar Selatan Kecamatan Jambi Selatan.

3.3 Hasil Kegiatan

Dari 96 KK di RT.25, RW.9, Kel. Linggar Selatan, Kec. Jambi Selatan hanya terdapat 12 sumur gali yang berhasil diambil sampel air bersihnya.

Berikut adalah data pengambilan sampel air pada sumur gali.

No Nama KK Jumlah Anggota KK Alamat Pengambilan Sampel Waktu Pengambilan
1 Yaidi 2  orang Jl. Simpang Ajai No.01, RT.25, RW.9, Kel. Linggar Selatan, Kec. Jambi Selatan 10.20 WIB
2 Sukini

Rudianto3     orang

3    orangJl. Simpang Ajai No.02, RT.25, RW.9, Kel. Linggar Selatan, Kec. Jambi Selatan

10.30 WIB

3

Misman

Kateno2       orang

2      orang

Jl. Simpang Ajai No.14, RT.25, RW.9, Kel. Linggar Selatan, Kec. Jambi Selatan

10.40 WIB

4

Panut

3     orang

Jl. Simpang Ajai No.-, RT.25, RW.9, Kel. Linggar Selatan, Kec. Jambi Selatan

10.50 WIB

5

J. Manulang

4     orang

Jl. Simpang Ajai No.-, RT.25, RW.9, Kel. Linggar Selatan, Kec. Jambi Selatan

11.00 WIB

6

Sakun

7     orang

Jl. Simpang Ajai No.12, RT.25, RW.9, Kel. Linggar Selatan, Kec. Jambi Selatan

11.12 WIB

7

Ratno

4     orang

Jl. Simpang Ajai No.06, RT.25, RW.9, Kel. Linggar Selatan, Kec. Jambi Selatan

11.15 WIB

8

Asep

7     orang

Jl. Simpang Ajai,  No.-

RT.25, RW.9, Pal Merah II, Kec. Jambi Selatan

10.30 WIB

9

Sabar

-

Jl. Simpang Ajai,  No.-

RT.25, RW.9, Pal Merah II, Kec. Jambi Selatan

10.35 WIB

10

Jarwanto

4     orang

Jl. Simpang Ajai,  No.-

RT.25, RW.9, Pal Merah II, Kec. Jambi Selatan

10.40 WIB

11

Jaharudin

-

Jl. Simpang Ajai,  No.27

RT.25, RW.9, Pal Merah II, Kec. Jambi Selatan

10.45 WIB

12

MK.Wacik

-

Jl. Simpang Ajai,  No.26

RT.25, RW.9, Pal Merah II, Kec. Jambi Selatan

10.50 WIB

Gambaran Sumur berdasarkan nomor urut tabel di atas :

  1. Menggunakan dinding sumur ½ meter, lantai semen, memakai cincin sumur, kedalaman sumur 5 meter.
  2. Memakai batu bata, lantai kramik, tinggi bibir sumur ½ meter, kedalaman sumur 6 meter.
  3. Kedalaman 7 meter, menggunakan batu bata, dan lantai semen.
  4. Menggunakan batu bata, tinggi ½ meter, lantai semen, dan kedalaman 6 meter.
  5. Kedalaman 4 meter, sumur menggunakan lantai semen, & bercincin.
  6. Kedalaman 5 meter, sumur menggunakan lantai semen, & bercincin. Jarak dengan septitank 7 meter.
  7. Kedalaman 4 meter, dinding sumur batu bata, & lantai semen.
  8. Sumur menggunakan cincin, lantai disemen, & kedalaman 4 meter.
  9. Sumur menggunakan cincin, lantai disemen, &  kedalaman 7 meter.

10. Sumur menggunakan cincin, &  kedalaman 7 meter.

11. Sumur menggunakan cincin, lantai disemen, & kedalaman 7 meter.

12. Sumur menggunakan cincin, lantai disemen, & kedalaman 7 meter.

Hasil Pemeriksaan di Laboraturium

No.     Nama Bau Warna Kekeruhan Rasa  pH
1 Yaidi Tidak Berbau Jernih Tidak Keruh Tidak Berasa 5
2 Sukini

dan

Rudi

Berbau

Jernih

Tidak        Keruh

Tidak Berasa

5

3Misman

dan

Kateno

Tidak Berbau

Jernih

Tidak        Keruh

Tidak Berasa

4,5

4PanutTidak Berbau

Jernih

Tidak        KeruhTidak Berasa

5,6

5J.

ManulangTidak Berbau

Jernih

Tidak        KeruhTidak Berasa

5,1

6SakunTidak Berbau

Jernih

Tidak        KeruhTidak Berasa

5,5

7RatnoTidak Berbau

Jernih

Tidak        KeruhTidak Berasa

4,6

8AsepTidak Berbau

Jernih

Tidak        KeruhTidak Berasa

5

9SabarTidak Berbau

Jernih

Tidak        KeruhTidak Berasa

5

10JarwantoTidak Berbau

Jernih

Tidak         KeruhTidak Berasa

5,5

11JaharudinTidak Berbau   Tidak

Jernih

Keruh

Tidak Berasa

5,5

12Mk.

WacikTidak Berbau

Jernih

Tidak        KeruhTidak        Keruh

5

Berdasarkan data-data di atas dapat di simpulkan bahwa:

Rata-rata masyarakat yang di Jl. Simpang Ajai No.01, RT.25, RW.9, Kel. Linggar Selatan, Kec. Jambi Selatan menggunakan air yang bersih, tetapi rata-rata pH air di daerah tersebut tidak memenuhi standar rata-rata pH air standar yaitu Nilai pH normal untuk air permukaan antara 6,5 s/d 8,5. Sedangkan air tanah dari 6 s/d 8,5 .

Kondisi fisik sumur gali yang digunakan masyarakat memiliki lokasi berdekatan dengan sumber pencemaran, antara lain: septic tank, genangan air limbah rumah tangga dan tumpukan sampah.

3.4  Permasalahan

Dari kegiatan praktek yang telah di laksanakan di Jl. Simpang Ajai, RT.25, Kelurahan Linggar Selatan Kecamatan Jambi Selatan, di dapati masalah antara lain :

  1. Dari 96 KK yang berada di RT 25, hanya ada 12 sumur gali yang berhasil di ambil sampel airnya. Hal ini terjadi dikarenakan ada masyarakat yang tidak bersedia di ambil sampel airnya dengan alasan sedang sibuk, penyebab lainnya karena penghuni rumah sedang tidak ada di rumah.
  2. Masih ditemukan pada 1 sumur gali digunakan oleh lebih dari 1 KK, ini menunjukkan masih ada masyarakat yang belum memiliki SAB             ( Sarana Air Bersih ) sendiri.
  3. Setelah pemeriksaan yang dilakukan pada sampel air. Di dapatkan data bahwa sebagian besar masyarakat menggunakan air yang pH nya < 6. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat menggunakan air yang bersiffat asam.
  4. Di sekitar tempat pendirian sumur gali, kami mendapati tumpukan sampah serta genangan air limbah rumah tangga. Hal ini menyebabkan air pada sumur gali beresiko tercemar oleh sampah dan air limbah yang ada di sekitar sumur gali tersebut.

3.5 Pemecahan Masalah

Pemecahan masalah yang dapat dilakukan dari masalah-masalah di atas adalah :

  1. Masyarakat hendaknya mau memberi ruang bagi tenaga-tenaga kesehatan untuk mengetahui kualitas air sumur galinya, agar dapat diketahui air yang mereka gunakan memenuhi standar air sehat secara fisik atau tidak. Syarat air sehat secara fisik yaitu tidak berbau, jernih dan tidak berasa.
  2. Karena masih ditemui masyarakat yang belum memiliki SAB sendiri, hendaknya ketua RT mengkoordinasi warganya untuk membangun sumur gali yang sesuai standar kesehatan secara swadaya.
  3. Sebelum digunakan hendaknya air tersebut di netralisir terlebih dahulu. Kimia penetralisir yang dapat digunakan untuk mengatasi air yang pH nya asam adalah soda api. Hal lain yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas air sumur gali pada RT tersebut adalah sumur yang telah di bangun hendaknya di jaga agar tidak terkontaminasi dengan bahan pencemar yang ada di sekitar sumur, seperti genangan air limbah rumah tangga, septi tank serta tumpukan sampah. Bila hal itu bisa dilakukan maka air dapat sehat kembali dengan sendirinya secara purifikasi.
  4. Masyarakat hendaknya menjaga agar lingkungan di sekitar sumur gali tetap bersih. Agar sumur gali yang telah ada tidak tercemar oleh sampah dan air limbah rumah tangga.

BAB IV

PENUTUP

4.1  Kesimpulan

Dari praktek pengambilan dan pengiriman sampel  air bersih pada sumur  gali secara fisik yang dilakukan di jalan simpang ajai RT.25 kelurahan linggar selatan kecamatan jambi selatan.Setelah di lakukan pemeriksaan di laboratorium di dapatkan hasil yaitu :

  • Dari sampel air bersih pada sumur gali yang telah diperiksa, didapatkan data bahwa sebagian besar air tersebut tidak memenuhi syarat air bersih secara fisik.
  • Air yang di gunakan oleh masyarakat memiliki pH < 6, hal ini menunjukkan bahwa air yang digunakan masyarakat bersifat asam.
  • Selain itu di sekitar tempat pendirian sumur gali, kami mendapati tumpukan sampah serta genangan air limbah rumah tangga.

4.2  Saran

A.Kepada Masyarakat

  • Masyarakat hendaknya membuat sumur gali yang memenuhi pesyaratan kesehatan.
  • Sumur yang telah di buat atau yang telah ada, hendaknya di jaga dari bahan pencemar yang ada di sekitar rumah seperti tumpukan sampah dan air limbah rumah tangga.

B.Kepada Tenaga Kesehatan

Tenaga kesehatan hendaknya mensosialisasikan ataupun memberikan penyuluhan tentang pembuatan sumur gali yang sesuai dengan standar kesehatan dan hal-hal yang di anggap perlu yang berkaitan dengan kesehatan.

Daftar Pustaka

Wikipedia”warna”id.wikipedia.org/wiki/Warna (diakses tanggal 31 Desember 2010)
http://www.scribd.com/doc/31132011/Pengujian-Warna-Air-Dengan-Colorimeter (diakses tanggal 31 Desember 2010)
Suriawiria,unus.1996.Air dalam Kehidupan dan Lingkungan Sehat. BAndung.Alumni/1996

Pengambilan Sampel Air Pada Sumur Gali

Filed under: Uncategorized — noviakl10jambi @ 5:11 pm

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  LatarBelakang

Air adalahzatataumateriatauunsur yang pentingbagisemuabentukkehidupan yang diketahuisampaisaatinidibumi.Air adalahsuatusenyawa yang mempunyaisifatbiologisdanstruktursifatistimewa. Ion  dan  air sangat menentukan sifat biologis dan struktur molekul senyawa yang ada didalamnya, seperti protein, lipida dan banyak lagi komponen lain dalam sel.

Air Sehat

Air yang dapatdiminumadalah air yang sehat.Air sehatdapatdilihatdariaspekfisik, kimia, danmikrobiologi.Secarafisik, air sehatadalah air yang jernih, tidakberbau, dantidakberasa.Secarakimia air sehatadalah air yang kadar pH nyanetraldankandungan mineral-mineral tertentuadabatasnya. Secaramikrobiologi, air sehatadalah air yang tidakmengandungmikrobapenyebabpenyakit (patogen).Misalnya, bakteriE.Coli yang biasamenyebabkandiaredanSalmonella yang biasamengakibatkantifus.Keduabakteriinibiasanyaterdapatpadatinjamanusia.Dalamkondisi normal, air tidakmengandungbakteritersebut, berarti air tersebuttelahtercemarolehtinjamanusia.

pHdan Air

Padadasarnya, nilai pH menunjukkanapakah air memilikikandunganpadatanrendahatautinggi.pHdari air murniadalah 7. Secaraumum, Air dengannilai pH lebihrendahdari 7 dianggapasamdannilai pH lebihdari 7 dianggapbasa.Nilai pH normal untuk air permukaanbiasanya 6,5 s/d 8,5 dan air tanahddari 6 s/d 8,5.

Alakalinitasadalahukurankapasitas air untukbertahandariperubahan pH yang mungkinterjadidanmembuat air menjadilebihasam. Ukurandarialkalinitasdan pH air diperlukanuntukmenilaike-korosifandari air.Secaraumum, air dengannilai pH rendah (<6,5) berupaasam, mengandung ion logamsepertibesi, mangan, tembaga, timbal, dansengataudengan kata lainlogamberacuntingkatantinggi. Inidapatmenyebabkankerusakandinipadapipalogam, nodapadabaju, dannodapadatempatcuciandidapurdanpembuangan.Yang lebihpenting, adasuaturesikokesehatan yang berhubungandenganracunini.

Cara utamamenyelesaikan pH rendahiniadalahdenganpenggunaanpenetralisir.Penetralisirmenyalurkansuatularutandalam air untukmencegah air bereaksidengansistem persiapanpadarumahtangga yang membuatkorosipadabarangelektronik. Kimia penetralisiradalah soda api. Penetralisirdengan soda apiakanmenaikkankandungannatriumdari air.

Air dengan pH >8,5mengindikasikan air mengandungpadatantinggi. Air padatantinggitidakmenyebabkanresikopadakesehatan, tetapidapatmenimbulkanmasalahpadakeindahan.Masalahiniberupa rasa alkali pada air (membuat kopi menjadilebihpahit), formasipadapiring, peralatan, wadahpencuci,,kesulitanuntukmembuatsabundandetergenberbusa, danformasidariresipirasi yang tidaklarutpadabaju.

1.2  Tujuan

  1. Untukmengetahuiadaatautidaknyapencemaran air
  2. Untukmengetahui pH air
  3. UntukmengetahuiSuhu Air
  4. Untukmengetahuikandungan
  5. Untukmengetahuinilai pH standaruntuk air sehat

1.3  RuangLingkup

AdapunRuanglingkupdarikegiatanpraktekiniyaituhanyasebatascarapengambilandanpengirimansampel air bersihpadasumurgali.

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1    Tinjauan Teori

Air bersihdisinikitakategorikanhanyauntuk yang layakdikonsumsi, bukanlayakuntukdigunakansebagaipenunjangaktifitassepertiuntuk MCK.Karenastandar air yang digunakanuntukkonsumsijelaslebihtinggidaripadauntukkeperluanselaindikonsumsi. Ada beberapapersyaratan yang perludiketahuimengenaikualitas air tersebutbaiksecarafisik, kimiadanjugamikrobiologi.

  1. 1.      Syaratfisik, antara lain:
    1. a.       Air harusbersihdantidakkeruh
    2. b.      Tidakberwarnaapapun
    3. c.       Tidakberasaapapun
    4. d.      Tidakberbauapapun
    5. e.       Suhuantara 10-25 C (sejuk)
    6. f.       Tidakmeninggalkanendapan
  2. 2.      Syaratkimiawi, antara lain:
    1. a.       Tidakmengandungbahankimiawi yang mengandungracun
    2. b.      Tidakmengandungzat-zatkimiawi yang berlebihan
    3. c.       Cukupyodium
    4. d.      pH air antara 6,5 – 9,2
  3. 3.      Syaratmikrobiologi, antara lain: Tidakmengandungkuman-kumanpenyakitsepertidisentri, tipus, kolera, danbakteripatogenpenyebabpenyakit.

Sepertikitaketahuijikastandarmutu air sudahdiatasstandaratausesuaidenganstandartersebutmaka yang terjadiadalahakanmenentukanbesarkecilnyainvestasidalampengadaan air bersihtersebut, baikinstalasipenjernihan air danbiayaoperasisertapemeliharaannya. Sehinggasemakinjelekkualitas air semakinberatbebanmasyarakatuntukmembayarhargajual air bersih. PeraturanMenteriKesehatanRepublik Indonesia No. 173/Men.Kes/Per/VII/1977, penyediaan air harusmemenuhikuantitasdankualitas, yaitu:

  1. a.       Amandanhigienis.
  2. b.      Baikdanlayakminum.
  3. c.       Tersediadalamjumlah yang cukup.
  4. d.      Harganyarelatifmurahatauterjangkauolehsebagianbesarmasyarakat

Parameter yang ada digunakan untuk metode dalam proses perlakuan, operasi dan biaya. Parameter air yang penting ialah parameter fisik, kimia, biologis dan radiologis.

Parameter Air Bersih secara Fisika

1.      Kekeruhan

2.      Warna

3.      Rasa & bau

4.      Endapan

5.      Temperatur

Parameter Air Bersih secara Kimia

1.      Organik, antara lain: karbohidrat, minyak/ lemak/gemuk, pestisida, fenol, protein, deterjen, dll.

2.      Anorganik, antara lain: kesadahan, klorida, logam berat, nitrogen, pH, fosfor,belerang, bahan-bahan beracun.

3.       Gas-gas, antara lain: hidrogen sulfida, metan, oksigen.

Parameter Air Bersih secara Biologi

1.      Bakteri

2.      Binatang

3.      Tumbuh-tumbuhan

4.      Protista

5.      Virus

Parameter Air Bersih secara Radiologi

1.      Konduktivitas atau daya hantar

2.      Pesistivitas

3.      PTT atau TDS (Kemampuan air bersih untuk menghantarkan arus listrik)

2.2  Alat dan Bahan

  1. Botol timba khusus
  2. Botol sample volume 200-350 ml
  3. Alat tulis
  4. Kertas Label
  5. Kain Lap bersih
  6. Tas pembawa

2.3  Langkah Kerja

  1. Siapkan alat dan bahan, tempatkan pada lokasi pengambilan.
  2. Periksa seksama alat yang digunakan.
  3. Ambil botol timba, masukkan kedalam sumur, hindari jangan sampai menyentuh dinding sumur. Dengan posisi selang in let berada di dalam air, selang out let berada dipermukaan air. Isi sampai penuh, kemudian diangkat.
  4. Bilas botol timba, kemudian ambil kembali (untuk membilas botol sampel, dibilas sebanyak 3x), kemudian pengambilan yang ke-3 untuk sampel.
  5. Masukkan ke botol sampel, dengan cara memasukkan dengan selang out let dialirkan melalui dinding botol. Isi sampai penuh.
  6. Tutup  botol sampel, tempelkan label, masukkan kedalam tas pembawa.

BAB III

HASIL KEGIATAN

3.1    Waktu pelaksanaan kegiatan

Adapun waktu pelaksanaan kegiatan praktek ini adalah :

Hari          : Selasa

Tanggal    : 9 November 2010

Waktu      : 08.00 WIB s/d Selesai

3.2    Lokasi Kegiatan

Lokasi dalam kegiatan praktek ini adalah Wilayah Kerja Puskesmas Pal V. Jl. Widuri Rt.31.

3.3.  Hasil Kegiatan

Jumlah sampel air yang didapat pada kegiatan praktek ini yaitu sejumlah 9 botol sample, berikut data Pemilik sumur gali :

  1. Suniarti

Jumlah Anggota : 4 orang

  1. Paiman

Jumlah Anggota : 6 orang

  1. Sumarni

Jumlah Anggota : 4 orang

  1. Mbah Nabah

Jumlah Anggota : 2 orang

  1. Sartini

Jumlah Anggota : 4 orang

  1. Bp. Tusiman

Jumlah Anggota : 5 orang

  1. Sukini

Jumlah Anggota : 4 orang

  1. M. Edison

Jumlah Anggota : 7 orang

  1. Bp. Dasril

Jumlah Anggota : 4 orang

BAB IV

PENUTUP

4.1    Kesimpulan

Air yang dapatdiminumadalah air yang sehat.Air sehatdapatdilihatdariaspekfisik, kimia, danmikrobiologi.Secarakimia air sehatadalah air yang kadar pH nyanetraldankandungan mineral-mineral tertentuadabatasnya.

Praktek pengambilan sampel air bersih pada sumur gali secara kimia yang dilakukan diWilayah kerja Puskesmas PAL V, Jl. Widuri Rt.31 telah didapatkan sebanyak 9 sampel air pada sumur gali. Namun karena keterbatasan waktu dan alat, pemeriksaan air secara kimia tidak dapat dilakukan.

4.2    Saran

Sebaiknya air yang terdapat pada sumur gali selalu dijaga dengan baik, agar tidak tercemar oleh Limbah-limbah Rumah Tangga. Dan pembuatan sumur gali harus sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan agar tidak tercemar oleh Bakteri Escherecia Coli.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.presidenri.go.id (PeraturanPemerintahRepublik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 TentangPengembangansistempenyediaan Air minum)

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/tugas-kuliah-lainnya/air-bersih

 

Kimia Lingkungan : Air Bersih

Filed under: Uncategorized — noviakl10jambi @ 5:09 pm

BAB I

  1. Latar Belakang

Air merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat di tinggalkan untuk kehidupan manusia, karena air di perlukan untuk berbagai macam kegiatan seperti kegiatan sehari hari, pertanian, industri, perikanan, dan rekreasi. Hampir 70% dari berat badan manusia terdiri dari air. Selain itu air merupakan komponen penting kedua setelah oksigen. Manusia dapat bertahan hidup tanpa makan untuk beberapa minggu, tapi akan bertahan beberapa hari tanpa minum. Dehidrasi akan lebih cepat menyebabkan kematian daripada kelaparan. (Poedji,Anna. 1994)

Air yang bermutu sangat baik bila memasuki sistem distribusi mungkin mengalami kerusakan sebelum sampai pada kran konsumen. Kerusakan ini dapat terjadi dalam sistem distribusi dari sediaan air yang telah di beri klorin dan dimana sedikit sekali atau tidak ada sisa Chlorine di dalam air yang sampai pada konsumen seperti dalam sistem distribusi air yang tidak di cuci hamakan. Organisme Coliform dapat masuk ke dalam air dari sistem distribusi dari pompa-pompa booster, dari pengepak yang di gunakan untuk menghubungkan pipa-pipa utama atau dari pipa pencuci di kran-kran umum.

  1. Tujuan

Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini yaitu untuk mengetahui bagaimana cara atau proses pengambilan sampel air pada kran secara kimia, dan mengetahui Ph, suhu serta kandungan apa yang terdapat pada sampel air tersebut.

BAB II

  1. Waktu dan Tempat Praktikum

Hari                 : Kamis

Tanggal            : 04 November 2010

Pukul               : 09.00 WIB

Tempat            : Kampus Kesehatan Lingkungan

  1. Alat
  2. Botol sample sebanyak 3 buah
  3. Alat tulis
  4. Kertas label
  5. Termometer air 1 buah
  6. PH meter digital 1 buah
  7. kain lap bersih
  8. Tas pembawa
  9. Pipet ukur 1 buah
  1. Bahan
    1. Mn  (Mangan Sulfat) 0,1 N
    2.  (Asam sulfat) 0,1 N
    3. Pereaksi  / KI(Kalium Iodida)  0,1 N
  1. Langkah kerja
  2. Siapkan alat dan bahan, tempatkan pada tempat yang bersih pada lokasi pengambilan.
  3. Periksa secara seksama alat yang akan digunakan.
  4. Hidupkan kran selama 1-2 menit untuk mengetahui kran tersebut berfungsi dengan baik atau tidak, kemudian matikan kran tersebut.
  5. Bersihkan mulut kran dengan kain lap.
  6. Kemudian ambil botol sample dan bilas 3 x.
  7. Masukkan mulut kran kedalam botol sample (kemiringan 45°)
  8. Alirkan secara perlahan melalui dinding botol, dan isi hingga penuh.
    1. Beri Mn (mangan sulfat) dengan menggunakan pipet karet isap sebanyak 3 x (karena botol sampel 300 ml) dicampur dengan  / KI (Kalium Iodida)sebanyak 3 ml.
    2. Tutup botol tersebut dan kocok perlahan, agar Mn  dan Pereaksi  / KI benar-benar tercampur.
    3. Beri label dan masukkan kedalam tas pembawa untuk dibawa ke laboratorium.
    4. Lakukan hal yang sama untuk rnendapatkan 1 botol sampel lagi untuk pengukuran PH dan suhu air tersebut.
    5. Ukur PH air dengan menggunakan PH meter, yang telah di kalibrasi terlebih dahulu.
    6. Ukur suhu air tersebut dengan menggunakan termometer suhu.
    7. Sebagai perbandingan, ambil botol sampel satu lagi dan isi dengan air got sampai penuh.
    8. Hitung PH air got tersebut, yang sebelumnya telah diberikan  ()3 (Tawas).
    9. Kemudian hitung suhu air got tersebut.

BAB III

  1. Hasil Praktikum

Berdasarkan Praktikum yang telah dilakukan pada Kamis, 04 November 2010 tentang pengambilan sampel air pada kran , hasil yang didapatkan berupa endapan berwarna kuning kecoklatan pada sampel air tersebut yang merupakan hasil dari campuran  Mn  dengan pereaksi  / KI (Kalium Iodida) dan kami pun telah mengerti cara mengetahi ph dan suhu air pada sampel air tersebut, tetapi kami tidak dapat memastikan berapa ph dikarenakan alat yang kurang berfungsi dengan baik, sedangkan suhu air  , begitu pula dengan air got memiliki suhu.

  1. Kesimpulan

Setelah mendapatkan hasil dari praktikum ini, maka dapa disimpulkan bahwa pada sampel air tedapat endapan berwarna kuning kecoklatan yang dihasilkan dari campuran Mn dengan pereaksi / KI (Kalium Iodida), dengan begitu harus segera dilakukan di laboratorium melalui DO (Desoveld Oksigen) ukur.

LAPORAN PRAKTIKUM

 

Pengambilan dan Pengiriman Sampel Air Bersih Pada Air Kran

Secara Kimia

Di Susun Oleh :

Novia Try Ariani

Kementerian Kesehatan RI

Poltekkes Jambi

Jurusan Kesehatan Lingkungan 2010

DAFTAR ISI

 

BAB I

A.   Latar Belakang                                                                       1

B.   Tujuan                                                                                        1

BAB II

A.   Waktu dan tempat praktikum                                          2

B.   Alat                                                                                              2

C.   Bahan                                                                                          2

D.   Langkah Kerja                                                                         2

BAB III

A.   Hasil Praktikkum                                                                    4

B.   Kesimpulan                                                                               4

Laporan Praktikum : KIMIA LINGKUNGAN

Filed under: Uncategorized — noviakl10jambi @ 5:05 pm

LAPORAN PRAKTIKUM

“Kimia Lingkungan”

 

Di susun oleh :

NOVIA TRY ARIANI

Nim :

PO.71.330.10.2491

Kementerian Kesehatan RI

Poltekkes Jambi

Jurusan Kesehatan Lingkungan

2011


PRAKTIKUM 1

Judul Praktikum          : Standarisasi

Hari/tanggal               : Rabu/1 Desember 2010

Tujuan                         : Untuk mengetahui kualitas larutan dalam keadaan standar

Metode                       : Titrasi

  1. Prinsip
  • Larutan  0,01 N ditambahkan dengan 2-3 tetes indikator PP 1%. Apabila dititrasi dengan larutan NaOH akan berubah warna menjadi Pink.
  • Larutan  0,01 N ditambahkan dengan 2-3 tetes indikator MO 1%. Apabila dititrasi dengan larutan HCl akan berubah warna menjadi Jingga/Merah.
  1. Alat
  • Buret Standar
  • Erlenmeyer
  • Pipet Volume 10 ml
  • Beaker glass
  • Karet Hisap
  • Statip
  • Pipet Tetes
  1. Bahan
  • Larutan NaOH
  • Larutan
  • Indikator PP 1%
  • Larutan HCl
  • Larutan
  • Indikator MO 1%
  1. Prosedur Kerja

Standarisasi NaOH :

  • Pasang buret pada statip dengan cara jepit buret menggunakan klem yang ada pada statip.
  • Masukkan NaOH kedalam buret.
  • Masukkan  0,01 N kedalam Erlenmeyer sebanyak 10 ml.
  • Tambahkan 2-3 tetes Indikator PP 1%.
  • Titrasi dengan NaOH sampai warna Pink.
  • Catat volume NaOH yang terpakai.
  • Lakukan sebanyak 2 kali.

Standarisasi HCl :

  • Masukkan HCl kedalam buret.
  • Masukkan  0,01 N kedalam Erlenmeyer menggunakan pipet volume 10 ml.
  • Tambahkan 2-3 tetes Indikator MO 1%.
  • Titrasi dengan HCl sampai warna Jingga/Merah.
  • Catat Volume HCl yang terpakai.
  • Lakukan sebanyak 2 kali.
  1. Perhitungan

Standarisasi NaOH :

Dik :

  •  NaOH : 44 ml
  •  NaOH : 41 ml
  • V   : 10 ml
  • N  : 0,01 N

Dit :

  • N NaOH….??

Penyelesaian :

Vr NaOH =   =  = 42,5 ml

(Vr.N) NaOH      = (V.N)

42,5.N NaOH    = 10 . 0,01

N NaOH           =  = 0,0023 N

 

Standarisasi HCl:

Dik :

  •  HCl : 34 ml
  •  HCl : 30 ml
  • V   : 10 ml
  • N  : 0,01 N

Dit :

  • N HCl….??

Penyelesaian :

Vr HCl =   =  = 32 ml

(Vr.N) HCl          = (V.N)

32.N HCl           = 10 . 0,01

N HCl               =  = 0,0031 N

  1. Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan :

  • Standarisasi NaOH dengan  dapat diperoleh jumlah N NaOH yaitu sebesar 0,0023 N.
  • Standarisasi HCl dengan  dapat diperoleh jumlah N HCl yaitu sebesar 0,0031 N.

Mengetahui,

Pembimbing Praktek

Gustia Meri B, S.Pd, M.Pd

PRAKTIKUM 2

Judul Praktikum          : Kesadahan

Hari/tanggal               : Rabu/16 Desember 2010

Tujuan                         : Untuk mengetahui Tingkat kesadahan air

Metode                       : Kompleksometri

  1. Prinsip

EDTA akan membentuk kompleks khelat yang larut bila ditambahkan kedalam larutan  atau  pada 10,0 ± 0,1 maka larutan menjadi merah anggur. Bila kemudian ditambahkan larutan EDTA sebagai penitrasi ion-ion  dan  akan terkomplekskan, apabila EDTA yang ditambahkan untuk mengkomplekskan sudah cukup maka warna larutan akan berubah dari merah anggur menjadi biru, ini menunjukkan titik akhir titrasi telah tercapai.

  1. Alat
  • Buret Standar
  • Erlenmeyer
  • Pipet Volume 10 ml, 50 ml
  • Beaker glass
  • Karet Hisap
  • Statip
  1. Bahan
  • Larutan EDTA
  • Larutan
  • Buffer Amoniak
  • Indikator EBT
  • Sampel air
  1. Prosedur Kerja

Standarisasi EDTA dengan :

  • Pasang buret pada statip dengan cara jepit buret menggunakan klem yang ada pada statip.
  • Masukkan EDTA kedalam buret.
  • Masukkan  0,01 m kedalam Erlenmeyer sebanyak 10 ml.
  • Tambahkan 1 mol Buffer Amoniak pH 10.
  • Tambahkan seujung lidi indikator EBT, maka akan berubah menjadi warna Merah Anggur.
  • Selanjutnya titrasi dengan EDTA sampai berubah menjadi warna biru.
  • Catat volume EDTA yang terpakai.
  • Lakukan sebanyak 2 kali.

Kesadahan :

  • Masukkan 50 ml air kedalam Erlenmeyer.
  • Tambahkan 1 mol Buffer Amoniak.
  • Tambahkan seujung lidi Indikator EBT, maka larutan akan berubah menjadi warna Merah Anggur.
  • Titrasi dengan EDTA sampai warna Biru.
  • Catat Volume EDTA yang terpakai.
  1. Perhitungan

Standarisasi EDTA dengan  :

Dik :

  •  EDTA : 6 ml
  •  EDTA : 5,5 ml
  • V  : 10 ml
  • M : 0,01 M

Dit :

  • M EDTA….??

Penyelesaian :

Vr EDTA =   =  = 5,75 ml

(Vr.M) EDTA      = (V.M)

5,75.M EDTA    = 10 . 0,01

M EDTA           =  = 0,017 M

 

Kesadahan :

V EDTA : 11,5 ml

Mg/l Kesadahan           = . V . M . mol

= . 11,5 . 0,017 . 100

= 391 Mg/l

  1. Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa jumlah kesadahan yang terdapat pada 50 ml air yaitu sebanyak 391 mg/l.

Mengetahui,

Pembimbing Praktek

Gustia Meri B, S.Pd, M.Pd

PRAKTIKUM 3

Judul Praktikum          : Kalsium

Hari/tanggal               : Rabu/16 Desember 2010

Tujuan                         : Menghitung kadar kalsium yang terlarut dalam air

Metode                       : Kompleksometri

  1. Prinsip

Kalsium yang terdapat dalam contoh air akan bereaksi dengan EDTA pada suasana alkali (pH 12) membentuk kompleks yang akan merubah warna merah muda menjadi ungu/violet.

  1. Alat
  • Buret Standar
  • Erlenmeyer
  • Pipet Volume 10 ml, 50 ml
  • Beaker glass
  • Karet Hisap
  • Statip
  1. Bahan
  • Larutan EDTA
  • Larutan
  • Larutan NaOH
  • Buffer Amoniak
  • Indikator Murexide
  • Indikator EBT
  • Sampel air
  1. Prosedur Kerja

Standarisasi EDTA dengan :

  • Pasang buret pada statip dengan cara jepit buret menggunakan klem yang ada pada statip.
  • Masukkan EDTA kedalam buret.
  • Masukkan  0,01 m kedalam Erlenmeyer sebanyak 10 ml.
  • Tambahkan 1 mol Buffer Amoniak pH 10.
  • Tambahkan seujung lidi indikator EBT, maka akan berubah menjadi warna Merah Anggur.
  • Selanjutnya titrasi dengan EDTA sampai berubah menjadi warna biru.
  • Catat volume EDTA yang terpakai.
  • Lakukan sebanyak 2 kali.

Kalsium :

  • Masukkan 50 ml air kedalam Erlenmeyer.
  • Tambahkan 1 ml larutan NaOH.
  • Tambahkan seujung lidi Indikator Murexide, maka larutan akan berubah menjadi warna Merah Anggur.
  • Titrasi dengan EDTA sampai warna Ungu/violet.
  • Catat Volume EDTA yang terpakai.
  1. Perhitungan

Standarisasi EDTA dengan  :

Dik :

  •  EDTA : 6 ml
  •  EDTA : 5,5 ml
  • V  : 10 ml
  • M : 0,01 M

Dit :

  • M EDTA….??

Penyelesaian :

Vr EDTA =   =  = 5,75 ml

(Vr.M) EDTA      = (V.M)

5,75.M EDTA    = 10 . 0,01

M EDTA           =  = 0,017 M

 

Kalsium :

V EDTA : 5,5 ml

Mg/l Ca            = . V . M . Ar Ca

= . 5,5 . 0,017 . 40

= 74,8 Mg/l

  1. Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar kalsium yang terlarut pada 50 ml air yaitu sebanyak 74,8 mg/l.

Mengetahui,

Pembimbing Praktek

Gustia Meri B, S.Pd, M.Pd

PRAKTIKUM 4

Judul Praktikum          : Magnesium

Hari/tanggal               : Rabu/16 Desember 2010

Tujuan                         : Menghitung kadar magnesium yang terlarut dalam air

Metode                       : Kompleksometri

  1. Prinsip

Kadar magnesium yang terlarut dalam air dapat diketahui melalui volume EDTA yang terpakai untuk menghitung kadar kalsium dan kesadahan.

  1. Alat
  • Buret Standar
  • Erlenmeyer
  • Pipet Volume 10 ml, 50 ml
  • Beaker glass
  • Karet Hisap
  • Statip
  1. Bahan
  • Larutan EDTA
  • Larutan
  • Larutan NaOH
  • Buffer Amoniak
  • Indikator Murexide
  • Indikator EBT
  • Sampel air
  1. Prosedur Kerja

Standarisasi EDTA dengan :

  • Pasang buret pada statip dengan cara jepit buret menggunakan klem yang ada pada statip.
  • Masukkan EDTA kedalam buret.
  • Masukkan  0,01 m kedalam Erlenmeyer sebanyak 10 ml.
  • Tambahkan 1 mol Buffer Amoniak pH 10.
  • Tambahkan seujung lidi indikator EBT, maka akan berubah menjadi warna Merah Anggur.
  • Selanjutnya titrasi dengan EDTA sampai berubah menjadi warna biru.
  • Catat volume EDTA yang terpakai.
  • Lakukan sebanyak 2 kali.

Kesadahan :

  • Masukkan 50 ml air kedalam Erlenmeyer.
  • Tambahkan 1 mol Buffer Amoniak.
  • Tambahkan seujung lidi Indikator EBT, maka larutan akan berubah menjadi warna Merah Anggur.
  • Titrasi dengan EDTA sampai warna Biru.
  • Catat Volume EDTA yang terpakai.

Kalsium :

  • Masukkan 50 ml air kedalam Erlenmeyer.
  • Tambahkan 1 ml larutan NaOH.
  • Tambahkan seujung lidi Indikator Murexide, maka larutan akan berubah menjadi warna Merah Anggur.
  • Titrasi dengan EDTA sampai warna Ungu/violet.
  • Catat Volume EDTA yang terpakai.
  1. Perhitungan

Standarisasi EDTA dengan  :

Dik :

  •  EDTA : 6 ml
  •  EDTA : 5,5 ml
  • V  : 10 ml
  • M : 0,01 M

Dit :

  • M EDTA….??

Penyelesaian :

Vr EDTA =   =  = 5,75 ml

(Vr.M) EDTA      = (V.M)

5,75.M EDTA    = 10 . 0,01

M EDTA           =  = 0,017 M

Kesadahan :

V EDTA : 11,5 ml

Kalsium :

V EDTA : 5,5 ml

Magnesium :

Mg/l Mg = . ( . M . Ar Mg

= . (11,5 – 5,5) . 0,017 . 24

= 20 . 6 . 0,017 . 24

= 48,96 Mg/l

  1. Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar magnesium yang terlarut dalam air yaitu sebanyak 48,96 mg/l.

Mengetahui,

Pembimbing Praktek

Gustia Meri B, S.Pd, M.Pd

PRAKTIKUM 5

Judul Praktikum          : Zat Organik (Permanganat)

Hari/tanggal               : Rabu/29 Desember 2010

Tujuan                         : Untuk mengetahui kandungan zat organik (permanganat) dalam air

Metode                       : Argentometri

  1. Prinsip

Sampel air yang ditambahkan dengan larutan  dan larutan  dan telah dipanaskan pada suhu 70°-80°C yang kemudian dititrasi dengan  akan berubah menjadi warna pink.

  1. Alat
  • Buret Standar
  • Erlenmeyer
  • Pipet Volume 10 ml, 5 ml, 50 ml
  • Beaker glass
  • Karet Hisap
  • Statip
  • Pemanas
  • Pipet tetes
  1. Bahan
  • Larutan
  • Larutan
  • Larutan
  • Sampel air
  1. Prosedur Kerja

Standarisasi  dengan :

  • Pasang buret pada statip dengan cara jepit buret menggunakan klem yang ada pada statip.
  • Masukkan  kedalam buret.
  • Masukkan  kedalam Erlenmeyer sebanyak 10 ml.
  • Tambahkan 5 ml .
  • Kemudian panaskan dengan suhu 70°-80°C
  • Selanjutnya titrasi dengan   sampai berubah menjadi warna Pink.
  • Catat volume   yang terpakai.
  • Lakukan sebanyak 2 kali.

Sampel :

  • Masukkan 50 ml air kedalam Erlenmeyer.
  • Tambahkan 5 ml .
  • Tambahkan pertetes  sehingga warnanya menjadi pink.
  • Kemudian panaskan dengan suhu 70°-80°C.
  • Selanjutnya tambahkan 10 ml .
  • Tambahkan dengan 10 ml .
  • Kemudian titrasi dengan  hingga berwarna pink.
  • Catat Volume  yang terpakai.
  • Lakukan sebanyak 2 kali.
  1. Perhitungan

Standarisasi  dengan :

Dik :

  •  : 12 ml
  •  : 11,5 ml
  • V  : 10 ml
  • N  : 0,01 N

Dit :

  • N  ….??

Penyelesaian :

Vr   =   =  = 11,75 ml

(Vr.N)                = (V.N)

11,75.N             = 10 . 0,01

N         =  = 0,0085 N

 

Sampel :

Vr   =   =  = 16,5 ml

Mg/l     = .

= .

= 20 . 0,125 . 31,6

= 79 Mg/l

  1. Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kandungan zat organik yang terdapat didalam 50 ml air yaitu sebesar 79 Mg/l.

Mengetahui,

Pembimbing Praktek

Gustia Meri B, S.Pd, M.Pd

PRAKTIKUM 6

Judul Praktikum          : Clorida

Hari/tanggal               : Rabu/29 Desember 2010

Tujuan                         : Untuk mengetahui kadar clorida dalam air

Metode                       : Argentometri

  1. Prinsip

Sampel air yang ditambahkan dengan indikator  5% yang kemudian dititrasi dengan  akan berubah menjadi warna merah bata.

  1. Alat
  • Buret Standar
  • Erlenmeyer
  • Pipet Volume 10 ml, 50 ml
  • Beaker glass
  • Karet Hisap
  • Statip
  1. Bahan
  • Larutan
  • Larutan NaCl
  • Indikator
  • Sampel air
  1. Prosedur Kerja

Standarisasi  dengan NaCl :

  • Pasang buret pada statip dengan cara jepit buret menggunakan klem yang ada pada statip.
  • Masukkan  kedalam buret.
  • Masukkan NaCl kedalam Erlenmeyer sebanyak 10 ml atur pH 7-10 (NaOH).
  • Tambahkan 1 ml indikator  5%.
  • Selanjutnya titrasi dengan  sampai berubah menjadi warna merah bata.
  • Catat volume   yang terpakai.
  • Lakukan sebanyak 2 kali.

 

Blanko :

  • Masukkan 50 ml air kedalam Erlenmeyer atur pH 7-10 (NaOH).
  • Tambahkan 1 ml indikator  5%.
  • Selanjutnya titrasi dengan  sampai berubah menjadi warna merah bata.
  • Catat volume   yang terpakai.
  • Lakukan sebanyak 2 kali.

Sampel :

  • Masukkan 50 ml air kedalam Erlenmeyer atur pH 7-10 (NaOH).
  • Tambahkan 1 ml indikator  5%.
  • Selanjutnya titrasi dengan  sampai berubah menjadi warna merah bata.
  • Catat volume   yang terpakai.
  • Lakukan sebanyak 2 kali.
  1. Perhitungan

Standarisasi  dengan NaCl :

Dik :

  •      : 3 ml
  •     : 6 ml
  • V NaCl         : 10 ml
  • N NaCl        : 0,01 N

Dit :

  • N   ….??

Penyelesaian :

Vr     =   =  = 4,5 ml

(Vr.N)                = (V.N) NaCl

4,5 .N    = 10 . 0,01

N         =  = 0,02 N

Blanko :

Vr     =   =  = 4,5 ml

Sampel :

Vr     =   =  = 7,5 ml

Penyelesaian :

Mg/l Cl      =

=

= 20 . 3 . 0,02 . 35,5

= 42,6 Mg/l

  1. Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar clorida yang terdapat didalam 50 ml air yaitu sebesar 42,6 Mg/l.

Mengetahui,

Pembimbing Praktek

Gustia Meri B, S.Pd, M.Pd

PRAKTIKUM 7

Judul Praktikum          : Oksigen Terlarut

Hari/tanggal               : Sabtu/15 Januari 2011

Tujuan                         : Untuk mengetahui jumlah oksigen yang terlarut dalam air

Metode                       : Iodometri

  1. Prinsip

Oksigen dalam sampel akan mengoksidasi  pada keadaan akalis, sehingga terbentuk endapan . Dengan penambahan KI dan  akan dibebaskan  yang ekuivalen dengan DO.  bebas dititrasi dengan  dengan indikator amilum.

  1. Alat
  • Buret Standar
  • Erlenmeyer
  • Pipet Volume 10 ml, 5 ml, 1 ml
  • Beaker glass
  • Karet Hisap
  • Statip
  • Pipet tetes
  • Botol Oksigen 300 ml
  1. Bahan
  • Larutan
  • Larutan
  • Larutan
  • Larutan KI
  • Indikator Amilum
  • Larutan  (P)
  • Larutan
  • Larutan
  • Larutan  40%
  • Reagen
  1. Prosedur Kerja

Standarisasi  dengan :

  • Pasang buret pada statip dengan cara jepit buret menggunakan klem yang ada pada statip.
  • Masukkan  kedalam buret.
  • Masukkan   kedalam Erlenmeyer sebanyak 10 ml.
  • Tambahkan 5 ml  4 N.
  • Tambahkan 10 ml KI 10%, warnanya akan menjadi kuning.
  • Selanjutnya titrasi dengan   sampai berubah menjadi warna kuning muda.
  • Tambahkan 1 ml indicator amilum 1 %, larutan akan menjadi warna biru.
  • Kemudian titrasi lagi dengan  sehingga warna biru hilang.
  • Catat volume   yang terpakai untuk menghilangkan warna biru.
  • Lakukan sebanyak 2 kali.

Sampel :

  • Isi botol oksigen dengan sampel air sampai penuh.
  • Tambahkan 0,7 ml  (P).
  • Tambahkan  sampai berwarna pink.
  • Tambahkan  sampai warna pink hilang.
  • Selanjutnya tambahkan 2 ml  40% dan 3 ml reagen , dan akan terbentuk endapan coklat.
  • Tambahkan 2 ml  (P) sampai berwarna kuning.
  • Pindahkan ke Erlenmeyer.
  • Titrasi dengan  sampai warna kuning muda.
  • Tambahkan 1 ml indicator amilum sehingga mejadi warna biru.
  • Selanjutnya titrasi lagi dengan  sampai warna biru hilang.
  • Catat volume   yang terpakai untuk menghilangkan warna biru.
  1. Perhitungan

Standarisasi  dengan  :

Dik :

  •     : 10,5 ml
  •     : 10,7 ml
  • V  : 10 ml
  • N : 0,01 N

Dit :

  • N  ….??

Penyelesaian :

Vr     =   =  = 6 ml

(Vr.N)                         = (V.N)

6. N                = 10 . 0,01

N                    =  = 0,01667 N

Sampel :

V  : 6,5 ml

X →  = 0,7 ml

KmN = 7 tetes = 0,3 ml

= 10 tetes = 0,5 ml

Mn = 2 ml

Re  = 3 ml

X = 6,5 ml

Mg/l  =

=

=

= 2,95 Mg/l

  1. Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa jumlah oksigen yang terlarut dalam 300 ml air yaitu sebanyak 2,95 Mg/l.

Mengetahui,

Pembimbing Praktek

Gustia Meri B, S.Pd, M.Pd

April 29, 2011

Hukum mengucapkan selamat natal

Filed under: Uncategorized — noviakl10jambi @ 5:55 am

NAMA MAHASISWA     : NOVIA TRY ARIANI

TINGKAT                        : 1 (SATU)

MATA KULIAH               : AGAMA ISLAM

FIQIH KONTEMPORER

 

HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

 

Para ulama kontemporer berbeda pendapat didalam penentuan hukum fiqihnya antara yang mendukung ucapan selamat dengan yang menentangnya. Kedua kelompok ini bersandar kepada sejumlah dalil.

Meskipun pengucapan selamat hari natal ini sebagiannya masuk didalam wilayah aqidah namun ia memiliki hukum fiqih yang bersandar kepada pemahaman yang mendalam, penelaahan yang rinci terhadap berbagai nash-nash syar’i.

Ada dua pendapat didalam permasalahan ini :

1.      Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan para pengikutnya seperti Syeikh Ibn Baaz, Syeikh Ibnu Utsaimin—semoga Allah merahmati mereka—serta yang lainnya seperti Syeikh Ibrahim bin Muhammad al Huqoil berpendapat bahwa mengucapkan selamat Hari Natal hukumnya adalah haram karena perayaan ini adalah bagian dari syiar-syiar agama mereka. Allah tidak meredhoi adanya kekufuran terhadap hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya didalam pengucapan selamat kepada mereka adalah tasyabbuh (menyerupai) dengan mereka dan ini diharamkan.

Diantara bentuk-bentuk tasyabbuh :

-          Ikut serta didalam hari raya tersebut.

-          Mentransfer perayaan-perayaan mereka ke neger-negeri islam.

Mereka juga berpendapat wajib menjauhi berbagai perayaan orang-orang kafir, menjauhi dari sikap menyerupai perbuatan-perbuatan mereka, menjauhi berbagai sarana yang digunakan untuk menghadiri perayaan tersebut, tidak menolong seorang muslim didalam menyerupai perayaan hari raya mereka, tidak mengucapkan selamat atas hari raya mereka serta menjauhi penggunaan berbagai nama dan istilah khusus didalam ibadah mereka.

2.      Jumhur ulama kontemporer membolehkan mengucapkan selamat Hari Natal.
Di antaranya Syeikh Yusuf al Qaradhawi yang berpendapat bahwa perubahan kondisi global lah yang menjadikanku berbeda dengan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah didalam mengharamkan pengucapan selamat hari-hari Agama orang-orang Nasrani atau yang lainnya. Aku (Yusuf al Qaradhawi) membolehkan pengucapan itu apabila mereka (orang-orang Nasrani atau non muslim lainnya) adalah orang-orang yang cinta damai terhadap kaum muslimin, terlebih lagi apabila ada hubungan khsusus antara dirinya (non muslim) dengan seorang muslim, seperti : kerabat, tetangga rumah, teman kuliah, teman kerja dan lainnya. Hal ini termasuk didalam berbuat kebajikan yang tidak dilarang Allah swt namun dicintai-Nya sebagaimana Dia swt mencintai berbuat adil.

Firman Allah swt, Artinya : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah:8)

Terlebih lagi jika mereka mengucapkan selamat Hari Raya kepada kaum muslimin. Firman Allah swt, Artinya : “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa : 86)

Lembaga Riset dan Fatwa Eropa juga membolehkan pengucapan selamat ini jika mereka bukan termasuk orang-orang yang memerangi kaum muslimin khususnya dalam keadaan dimana kaum muslimin minoritas seperti di Barat. Setelah memaparkan berbagai dalil, Lembaga ini memberikan kesimpulan sebagai berikut : Tidak dilarang bagi seorang muslim atau Markaz Islam memberikan selamat atas perayaan ini, baik dengan lisan maupun pengiriman kartu ucapan yang tidak menampilkan simbol mereka atau berbagai ungkapan keagamaan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam seperti salib. Sesungguhnya Islam menafikan fikroh salib, firman-Nya, Artinya : “Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.” (QS. An Nisaa : 157).

Kalimat-kalimat yang digunakan dalam pemberian selamat ini pun harus yang tidak mengandung pengukuhan atas agama mereka atau ridho dengannya. Adapun kalimat yang digunakan adalah kalimat pertemanan yang sudah dikenal dimasyarakat.

Tidak dilarang untuk menerima berbagai hadiah dari mereka karena sesungguhnya Nabi saw telah menerima berbagai hadiah dari non muslim seperti al Muqouqis Pemimpin al Qibthi di Mesir dan juga yang lainnya dengan persyaratan bahwa hadiah itu bukanlah yang diharamkan oleh kaum muslimin seperti khomer, daging babi dan lainnya.

Diantara para ulama yang membolehkan adalah DR. Abdus Sattar Fathullah Sa’id, ustadz bidang tafsir dan ilmu-ilmu Al Qur’an di Universitas Al Azhar, DR. Muhammad Sayyid Dasuki, ustadz Syari’ah di Univrsitas Qatar, Ustadz Musthafa az Zarqo serta Syeikh Muhammad Rasyd Ridho. (www.islamonline.net)

Adapun MUI (Majelis Ulama Indonesia) pada tahun 1981 sebelum mengeluarkan fatwanya, terlebih dahulu mengemukakan dasar-dasar ajaran Islam dengan disertai berbagai dalil baik dari Al Qur’an maupun Hadits Nabi saw sebagai berikut :

-          Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan.

-          Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain.

-          Bahwa ummat Islam harus mengakui ke-Nabian dan ke-Rasulan Isa Almasih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain.

-          Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih dari satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Almasih itu anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik.

-          Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab: Tidak.

-          Islam mengajarkan bahwa Allah SWT itu hanya satu.

-          Islam mengajarkan ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan.

Juga berdasarkan Kaidah Ushul Fikih ”Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan mushalihnya tidak dihasilkan)”. Untuk kemudian MUI mengeluarkan fatwanya berisi :

  1. Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa as, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.
  2. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
  3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Subhanahu Wata’ala dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan perayaan Natal.

Mengucapkan Selamat Hari Natal Haram kecuali Darurat

Diantara dalil yang digunakan para ulama yang membolehkan mengucapkan Selamat Hari Natal adalah firman Allah swt, Artinya : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah : 8)

Ayat ini merupakan rukhshoh (keringanan) dari Allah swt untuk membina hubungan dengan orang-orang yang tidak memusuhi kaum mukminin dan tidak memerangi mereka. Ibnu Zaid mengatakan bahwa hal itu adalah pada awal-awal islam yaitu untuk menghindar dan meninggalkan perintah berperang kemudian di-mansukh (dihapus).

Qatadhah mengatakan bahwa ayat ini dihapus dengan firman Allah swt, Artinya : “Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka.” (QS. At Taubah : 5)

Adapula yang menyebutkan bahwa hukum ini dikarenakan satu sebab yaitu perdamaian. Ketika perdamaian hilang dengan futuh Mekah maka hukum didalam ayat ini di-mansukh (dihapus) dan yang tinggal hanya tulisannya untuk dibaca. Ada juga yang mengatakan bahwa ayat ini khusus untuk para sekutu Nabi saw dan orang-orang yang terikat perjanjian dengan Nabi saw dan tidak memutuskannya, demikian dikatakan al Hasan.

Al Kalibi mengatakan bahwa mereka adalah Khuza’ah, Banil Harits bin Abdi Manaf, demikian pula dikatakan oleh Abu Sholeh. Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah Khuza’ah.

Mujahid mengatakan bahwa ayat ini dikhususkan terhadap orang-orang beriman yang tidak berhijrah. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud didalam ayat ini adalah kaum wanita dan anak-anak dikarenakan mereka tidak ikut memerangi, maka Allah swt mengizinkan untuk berbuat baik kepada mereka, demikianlah disebutkan oleh sebagian ahli tafsir… (al Jami’ li Ahkamil Qur’an juz IX hal 311)

Dari pemaparan yang dsebutkan Imam Qurthubi diatas maka ayat ini tidak bisa diperlakukan secara umum tetapi dikhususkan untuk orang-orang yang terikat perjanjian dengan Rasulullah saw selama mereka tidak memutuskannya (ahli dzimmah).

Hak-hak dan kewajiban-kewajiban kafir dzimmi adalah sama persis dengan kaum muslimin di suatu negara islam. Mereka semua berada dibawah kontrol penuh dari pemerintahan islam sehingga setiap kali mereka melakukan tindakan kriminal, kejahatan atau melanggar perjanjian maka langsung mendapatkan sangsi dari pemerintah.

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Janganlah kamu memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu salah seorang diantara mereka di jalan maka sempitkanlah jalannya.” (HR. Muslim)

Yang dimaksud dengan sempitkan jalan mereka adalah jangan biarkan seorang dzimmi berada ditengah jalan akan tetapi jadikan dia agar berada ditempat yang paling sempit apabila kaum muslimin ikut berjalan bersamanya. Namun apabila jalan itu tidak ramai maka tidak ada halangan baginya. Mereka mengatakan : “Akan tetapi penyempitan di sini jangan sampai menyebabkan orang itu terdorong ke jurang, terbentur dinding atau yang sejenisnya.” (Shohih Muslim bi Syarhin Nawawi juz XIV hal 211)

Hadits “menyempitkan jalan” itu menunjukkan bahwa seorang muslim harus bisa menjaga izzahnya dihadapan orang-orang non muslim tanpa pernah mau merendahkannya apalagi direndahkan. Namun demikian dalam menampilkan izzah tersebut janganlah sampai menzhalimi mereka sehingga mereka jatuh ke jurang atau terbentur dinding karena jika ini terjadi maka ia akan mendapatkan sangsi.

Disebutkan didalam sejarah bahwa Umar bin Khottob pernah mengadili Gubernur Mesir Amr bin Ash karena perlakuan anaknya yang memukul seorang Nasrani Qibti dalam suatu permainan. Hakim Syuraih pernah memenangkan seorang Yahudi terhadap Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib dalam kasus beju besinya.

Sedangkan pada zaman ini, orang-orang non muslim tidaklah berada dibawah suatu pemerintahan islam yang terus mengawasinya dan bisa memberikan sangsi tegas ketika mereka melakukan pelanggaran kemanusiaan, pelecehan maupun tindakan kriminal terhadap seseorang muslim ataupun umat islam.

Keadaan justru sebaliknya, orang-orang non muslim tampak mendominanasi di berbagai aspek kehidupan manusia baik pilitik, ekonomi, budaya maupun militer. Tidak jarang dikarenakan dominasi ini, mereka melakukan berbagai penghinaan atau pelecehan terhadap simbol-simbol islam sementara si pelakunya tidak pernah mendapatkan sangsi yang tegas dari pemerintahan setempat, terutama di daerah-daerah atau negara-negara yang minoritas kaum muslimin.

Bukan berarti dalam kondisi dimana orang-orang non muslim begitu dominan kemudian kaum muslimin harus kehilangan izzahnya dan larut bersama mereka, mengikuti atau mengakui ajaran-ajaran agama mereka. Seorang muslim harus tetap bisa mempertahankan ciri khas keislamannya dihadapan berbagai ciri khas yang bukan islam didalam kondisi bagaimanapun.

Tentunya diantara mereka—orang-orang non muslim—ada yang berbuat baik kepada kaum muslimin dan tidak menyakitinya maka terhadap mereka setiap muslim diharuskan membalasnya dengan perbuatan baik pula.

Al Qur’an maupun Sunah banyak menganjurkan kaum muslimin untuk senantiasa berbuat baik kepada semua orang baik terhadap sesama muslim maupun non muslim, diantaranya : surat al Mumtahanah ayat 8 diatas. Sabda Rasulullah saw,”Sayangilah orang yang ada di bumi maka yang ada di langit akan menyayangimu.” (HR. Thabrani) Juga sabdanya saw,”Barangsiapa yang menyakiti seorang dzimmi maka aku akan menjadi lawannya di hari kiamat.” (HR. Muslim)

Perbuatan baik kepada mereka bukan berarti harus masuk kedalam prinsip-prinsip agama mereka (aqidah) karena batasan didalam hal ini sudah sangat jelas dan tegas digariskan oleh Allah swt, Artinya : “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al Kafirun : 6)

Hari Natal adalah bagian dari prinsip-prinsip agama Nasrani, mereka meyakini bahwa di hari inilah Yesus Kristus dilahirkan. Didalam bahasa Inggris disebut dengan Christmas, Christ berarti Kristus sedangkan Mass berarti masa atau kumpulan jadi bahwa pada hari itu banyak orang berkumpul mengingat / merayakan hari kelahiran Kristus. Dan Kristus menurut keyakinan mereka adalah Allah yang mejelma.

Berbuat kebaikan kepada mereka dalam hal ini adalah bukan dengan ikut memberikan selamat Hari Natal dikarenakan alasan diatas akan tetapi dengan tidak mengganggu mereka didalam merayakannya (aspek sosial).

Pemberian ucapan selamat Natal baik dengan lisan, telepon, sms, email ataupun pengiriman kartu berarti sudah memberikan pengakuan terhadap agama mereka dan rela dengan prinsip-prinsip agama mereka. Hal ini dilarang oleh Allah swt dalam firman-Nya,

Artinya : “Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Az Zumar : 7)

Jadi pemberian ucapan Selamat Hari Natal kepada orang-orang Nasrani baik ia adalah kerabat, teman dekat, tetangga, teman kantor, teman sekolah dan lainnya adalah haram hukumnya, sebagaimana pendapat kelompok pertama (Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, Ibn Baaz dan lainnya) dan juga fatwa MUI.

Namun demikian setiap muslim yang berada diantara lingkungan mayoritas orang-orang Nasrani, seperti muslim yang tempat tinggalnya diantara rumah-rumah orang Nasrani, pegawai yang bekerja dengan orang Nasrani, seorang siswa di sekolah Nasrani, seorang pebisnis muslim yang sangat tergantung dengan pebisinis Nasrani atau kaum muslimin yang berada di daerah-daerah atau negeri-negeri non muslim maka boleh memberikan ucapan selamat Hari Natal kepada orang-orang Nasrani yang ada di sekitarnya tersebut disebabkan keterpaksaan. Ucapan selamat yang keluar darinya pun harus tidak dibarengi dengan keredhoan didalam hatinya serta diharuskan baginya untuk beristighfar dan bertaubat.

Diantara kondisi terpaksa misalnya; jika seorang pegawai muslim tidak mengucapkan Selamat Hari Natal kepada boss atau atasannya maka ia akan dipecat, karirnya dihambat, dikurangi hak-haknya. Atau seorang siswa muslim apabila tidak memberikan ucapan Selamat Natal kepada Gurunya maka kemungkinan ia akan ditekan nilainya, diperlakukan tidak adil, dikurangi hak-haknya. Atau seorang muslim yang tinggal di suatu daerah atau negara non muslim apabila tidak memberikan Selamat Hari Natal kepada para tetangga Nasrani di sekitarnya akan mendapatkan tekanan sosial dan lain sebagainya.

Artinya : “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. An Nahl : 106)

Adapun apabila keadaan atau kondisi sekitarnya tidaklah memaksa atau mendesaknya dan tidak ada pengaruh sama sekali terhadap karir, jabatan, hak-hak atau perlakuan orang-orang Nasrani sekelilingnya terhadap diri dan keluarganya maka tidak diperbolehkan baginya mengucapkan Selamat Hari Natal kepada mereka.

Hukum Mengenakan Topi Sinterklas

Sebagai seorang muslim sudah seharusnya bangga terhadap agamanya yang diimplementasikan dengan berpenampilan yang mencirikan keislamannya. Allah swt telah menetapkan berbagai ciri khas seorang muslim yang membedakannya dari orang-orang non muslim.

Dari sisi bisnis dan muamalah, islam menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba yang merupakan warisan orang-orang jahiliyah. Dari sisi busana, islam memerintahkan umatnya untuk menggunakan busana yang menutup auratnya kecuali terhadap orang-orang yang diperbolehkan melihatnya dari kalangan anggota keluarganya. Dari sisi penampilan, islam meminta kepada seorang muslim untuk memelihara jenggot dan mencukur kumis.

Islam meminta setiap umatnya untuk bisa membedakan penampilannya dari orang-orang non muslim, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Bedakanlah dirimu dari orang-orang musyrik, panjangkanlah jenggot dan cukurlah kumis.” (Muttafaq Alaih)

Islam melarang umatnya untuk meniru-niru berbagai prilaku yang menjadi bagian ritual keagamaan tertentu diluar islam atau mengenakan simbol-simbol yang menjadi ciri khas mereka seperti mengenakan salib atau pakaian khas mereka.

Terkadang seorang muslim juga mengenakan topi dan pakaian Sinterklas didalam suatu pesta perayaan Natal dengan teman-teman atau bossnya, untuk menyambut para tamu perusahaan yang datang atau yang lainnya.

Sinterklas sendiri berasal dari Holland yang dibawa ke negeri kita. Dan diantara keyakinan orang-orang Nasrani adalah bahwa ia sebenarnya adalah seorang uskup gereja katolik yang pada usia 18 tahun sudah diangkat sebagai pastor. Ia memiliki sikap belas kasihan, membela umat dan fakir miskin. Bahkah didalam legenda mereka disebutkan bahwa ia adalah wakil Tuhan dikarenakan bisa menghidupkan orang yang sudah mati.

Sinterklas yang ada sekarang dalam hal pakaian maupun postur tubuhnya, dengan mengenakan topi tidur, baju berwarna merah tanpa jubah dan bertubuh gendut serta selalu tertawa adalah berasal dari Amerika yang berbeda dengan aslinya yang berasal dari Turki yang selalu mengenakan jubah, tidak mesti berbaju merah, tidak gendut dan jarang tertawa. (disarikan dari sumber : http://h-k-b-p.blogspot.com)

Namun demikian topi tidur dengan pakaian merah yang biasa dikenakan sinterklas ini sudah menjadi ciri khas orang-orang Nasrani yang hanya ada pada saat perayaan Hari Natal sehingga dilarang bagi setiap muslim mengenakannya dikarenakan termasuk didalam meniru-niru suatu kaum diluar islam, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Siapa yang meniru suatu kaum maka ia adalah bagian dari mereka.” (Muttafaq Alaih)

Tidak jarang diawali dari sekedar meniru berubah menjadi penerinaan dan akhirnya menjadi pengakuan sehingga bukan tidak mungkin bagi kaum muslimin yang tidak memiliki dasar keimanan yang kuat kepada Allah ia akan terseret lebih jauh lagi dari sekedar pengakuan namun bisa menjadikannya berpindah agama (murtad)

Akan tetapi jika memang seseorang muslim berada dalam kondisi terdesak dan berbagai upaya untuk menghindar darinya tidak berhasil maka ia diperbolehkan mengenakannya dikarenakan darurat atau terpaksa dengan hati yang tidak redho, beristighfar dan bertaubat kepada Allah swt, seperti : seorang karyawan supermarket miliki seorang Nasrani, seorang resepsionis suatu perusahaan asing, para penjaga counter di perusahaan non muslim untuk yang diharuskan mengenakan topi sinterklas dalam menyambut para tamunya dengan ancaman apabila ia menolaknya maka akan dipecat.

Wallahu A’laM.

Older Posts »

The Banana Smoothie Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.