noviakl10jambi

April 30, 2011

Isolasi Kuman Di Udara

Filed under: Uncategorized — noviakl10jambi @ 5:21 pm

BAB I

PEDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Bakteri dapat diperoleh dimana-mana. Biasanya kita mengadakan pemiaraan dulu didalam cawan petri (petridisk) yang berisi zat makanan atau medium. Asalkan medium itu dibiarkan terbuka maka setelah 2 kali 24 jam akan kita dapati koloni bakteri dan jamur menutup permukaan medium. Rebusan kentang yang sudah dikuliti ataupun jenang-dodol dapat kita pergunakan sebagai medim yang sederhana.

Koloni cendawan dapat segera dibedakan dari koloni bakteri, koloni cendawan itu memperlihatkan benang-benang miselium. Koloni bakteri nampak seperti sekelumit mentega, air susu, atau percikan sari buah yang kental.

Untuk mengetahui sifat-sifat morfologi bakteri, maka bakteri dapat diperiksa dalam keadaan hidup atau keadaan mati. Pemeriksaan morfologi ini perlu untuk mengenal nama bakteri. Disamping itu diperlukan juga pengenalan sifat-sifat fisiologinya, bahkan sifat-sifat fisiologi itu kebanyakan merupakan faktor penentu dalam mengenal nama spesies suatu bakteri.

1.2 Tujuan

Tujuan dari dilakukannya praktek clinical instructure ini adalah :

  1. Untuk mengisolasi kuman di udara
  2. Untuk menghitung koloni kuman di udara

1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup pelaksanaan praktek isolasi kuman di udara ini adalah di kampus Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Politeknik Kesehatan Jambi jurusan kesehatan lingkungan

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Media

Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media.

Plate Count Agar (PCA)
PCA digunakan sebagai medium untuk mikroba aerobik dengan inokulasi di atas permukaan. PCA dibuat dengan melarutkan semua bahan (casein enzymic hydrolisate, yeast extract, dextrose, agar) hingga membentuk suspensi 22,5 g/L kemudian disterilisasi pada autoklaf (15 menit pada suhu 121°C). Media PCA ini baik untuk pertumbuhan total mikroba (semua jenis mikroba) karena di dalamnya mengandung komposisi casein enzymic hydrolisate yang menyediakan asam amino dan substansi nitrogen komplek lainnya serta ekstrak yeast mensuplai vitamin B kompleks.
2.2  Bakteri

Bakteri, dari kata Latin bacterium (jamak, bacteria), adalah kelompok terbanyak dari organisme hidup. Mereka sangatlah kecil (mikroskopik) dan kebanyakan uniselular (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif sederhana tanpa nukleus/inti sel, cytoskeleton, dan organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Struktur sel mereka dijelaskan lebih lanjut dalam artikel mengenai prokariota, karena bakteri merupakan prokariota, untuk membedakan mereka dengan organisme yang memiliki sel lebih kompleks, disebut eukariota. Istilah “bakteri” telah diterapkan untuk semua prokariota atau untuk kelompok besar mereka, tergantung pada gagasan mengenai hubungan mereka.

Bakteri adalah yang paling berkelimpahan dari semua organisme. Mereka tersebar (berada di mana-mana) di tanah, air, dan sebagai simbiosis dari organisme lain. Banyak patogen merupakan bakteri. Kebanyakan dari mereka kecil, biasanya hanya berukuran 0,5-5 μm, meski ada jenis dapat menjangkau 0,3 mm dalam diameter (Thiomargarita). Mereka umumnya memiliki dinding sel, seperti sel tumbuhan dan jamur, tetapi dengan komposisi sangat berbeda (peptidoglikan). Banyak yang bergerak menggunakan flagela, yang berbeda dalam strukturnya dari flagela kelompok lain.

Struktur sel prokariota

a.        Struktur Sel Bakteri

Seperti prokariota (organisme yang tidak memiliki selaput inti) pada umumnya, semua bakteri memiliki struktur sel yang relatif sederhana. Struktur bakteri yang paling penting adalah dinding sel. Bakteri dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu Gram positif dan Gram negatif didasarkan pada perbedaan struktur dinging sel. Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang terdiri atas lapisan peptidoglikan yang tebal dan asam teichoic. Sementara bakteri Gram negatif memiliki lapisan luar, lipopolisakarida – terdiri atas membran dan lapisan peptidoglikan yang tipis terletak pada periplasma (di antara lapisan luar dan membran sitoplasmik).

Banyak bakteri memiliki struktur di luar sel lainnya seperti flagela dan fimbria yang digunakan untuk bergerak, melekat dan konjugasi. Beberapa bakteri juga memiliki kapsul atau lapisan lendir yang membantu pelekatan bakteri pada suatu permukaan dan biofilm formation. Bakteri juga memiliki kromosom, ribosom dan beberapa spesies lainnya memiliki granula makanan, vakuola gas dan magnetosom.

Beberapa bakteri mampu membentuk endospora yang membuat mereka mampu bertahan hidup pada lingkungan ekstrim.

b.      Morfologi/bentuk bakteri

Berdasarkan berntuknya, bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu:

  • Kokus (Coccus) dalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola, dan mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:
    • Mikrococcus, jika kecil dan tunggal
    • Diplococcus, jka bergandanya dua-dua
    • Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujursangkar
    • Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus
    • Staphylococcus, jika bergerombol
    • Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai
  • Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan mempunyai variasi sebagai berikut:
    • Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua
    • Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai
  • Spiril (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai berikut:
    • Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran
    • Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran

Berbagai bentuk tubuh bakteri

Bentuk tubuh/morfologi bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium dan usia. Oleh karena itu untuk membandingkan bentuk serta ukuran bakteri, kondisinya harus sama. Pada umumnya bakteri yang usianya lebih muda ukurannya relatif lebih besar daripada yang sudah tua.

c.        Alat gerak bakteri

Gambar alat gerak bakteri: A-Monotrik; B-Lofotrik; C-Amfitrik; D-Peritrik;

Banyak spesies bakteri yang bergerak menggunakan flagel. Hampir semua bakteri yang berbentuk lengkung dan sebagian yang berbentuk batang ditemukan adanya flagel. Sedangkan bakteri kokus jarang sekali memiliki flagel. Ukuran flagel bakteri sangat kecil, tebalnya 0,02 – 0,1 mikro, dan panjangnya melebihi panjang sel bakteri. Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang dimiliki, bakteri dibagi menjadi lima golongan, yaitu:

  • Atrik, tidak mempunyai flagel.
  • Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.
  • Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.
  • Amfitrik, mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya.
  • Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.

d.       Pengaruh lingkungan terhadap bakteri

Kondisi lingkungan yang mendukung dapat memacu pertumbuhan dan reproduksi bakteri. Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan reproduksi bakteri adalah suhu, kelembapan, dan cahaya.

a.        Suhu

Berdasarkan kisaran suhu aktivitasnya, bakteri dibagi menjadi 3 golongan:

  • Bakteri psikrofil, yaitu bakteri yang hidup pada daerah suhu antara 0°– 30 °C, dengan suhu optimum 15 °C.
  • Bakteri mesofil, yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 15° – 55 °C, dengan suhu optimum 25° – 40 °C.
  • Bakteri termofil, yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu tinggi antara 40° – 75 °C, dengan suhu optimum 50 – 65 °C

Pada tahun 1967 di Yellow Stone Park ditemukan bakteri yang hidup dalam sumber air panas bersuhu 93° – 500 °C.

b.        Kelembapan

Pada umumnya bakteri memerlukan kelembapan yang cukup tinggi, kira-kira 85%. Pengurangan kadar air dari protoplasma menyebabkan kegiatan metabolisme terhenti, misalnya pada proses pembekuan dan pengeringan.

c.        Cahaya

Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Umumnya cahaya merusak sel mikroorganisme yang tidak berklorofil. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan terjadinya ionisasi komponen sel yang berakibat menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian. Pengaruh cahaya terhadap bakteri dapat digunakan sebagai dasar sterilisasi atau pengawetan bahan makanan.

Jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan seperti suhu tinggi, kekeringan atau zat-zat kimia tertentu, beberapa spesies dari Bacillus yang aerob dan beberapa spesies dari Clostridium yang anaerob dapat mempertahankan diri dengan spora. Spora tersebut dibentuk dalam sel yang disebut endospora. Endospora dibentuk oleh penggumpalan protoplasma yang sedikit sekali mengandung air. Oleh karena itu endospora lebih tahan terhadap keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan bakteri aktif. Apabila keadaan lingkungan membaik kembali, endospora dapat tumbuh menjadi satu sel bakteri biasa. Letak endospora di tengah-tengah sel bakteri atau pada salah satu ujungnya.

e.        Peranan Bakteri

–          Bakteri Menguntungkan

Bakteri pengurai

Bakteri saprofit menguraikan tumbuhan atau hewan yang mati, serta sisa-sisa atau kotoran organisme. Bakteri tersebut menguraikan protein, karbohidrat dan senyawa organik lain menjadi CO2, gas amoniak, dan senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana. Oleh karena itu keberadaan bakteri ini sangat berperan dalam mineralisasi di alam dan dengan cara ini bakteri membersihkan dunia dari sampah-sampah organik.

Bakteri nitrifikasi

Bakteri nitrifikasi adalah bakteri-bakteri tertentu yang mampu menyusun senyawa nitrat dari amoniak yang berlangsung secara aerob di dalam tanah. Nitrifikasi terdiri atas dua tahap yaitu:

  • Oksidasi amoniak menjadi nitrit oleh bakteri nitrit. Proses ini dinamakan nitritasi.

Reaksi nitritasi

  • Oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat oleh bakteri nitrat. Prosesnya dinamakan nitratasi.

Reaksi nitratasi

Dalam bidang pertanian, nitrifikasi sangat menguntungkan karena menghasilkan senyawa yang diperlukan oleh tanaman yaitu nitrat. Tetapi sebaliknya di dalam air yang disediakan untuk sumber air minum, nitrat yang berlebihan tidak baik karena akan menyebabkan pertumbuhan ganggang di permukaan air menjadi berlimpah.

Bakteri nitrogen

Bakteri nitrogen adalah bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan mengubahnya menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan. Karena kemampuannya mengikat nitrogen di udara, bakteri-bakteri tersebut berpengaruh terhadap nilai ekonomi tanah pertanian. Kelompok bakteri ini ada yang hidup bebas maupun simbiosis. Bakteri nitrogen yang hidup bebas yaitu Azotobacter chroococcum, Clostridium pasteurianum, dan Rhodospirillum rubrum. Bakteri nitrogen yang hidup bersimbiosis dengan tanaman polong-polongan yaitu Rhizobium leguminosarum, yang hidup dalam akar membentuk nodul atau bintil-bintil akar. Tumbuhan yang bersimbiosis dengan Rhizobium banyak digunakan sebagai pupuk hijau seperti Crotalaria, Tephrosia, dan Indigofera. Akar tanaman polong-polongan tersebut menyediakan karbohidrat dan senyawa lain bagi bakteri melalui kemampuannya mengikat nitrogen bagi akar. Jika bakteri dipisahkan dari inangnya (akar), maka tidak dapat mengikat nitrogen sama sekali atau hanya dapat mengikat nitrogen sedikit sekali. Bintil-bintil akar melepaskan senyawa nitrogen organik ke dalam tanah tempat tanaman polong hidup. Dengan demikian terjadi penambahan nitrogen yang dapat menambah kesuburan tanah.

Bakteri usus

Bakteri Eschereria coli hidup di kolon (usus besar) manusia, berfungsi membantu membusukkan sisa pencernaan juga menghasilkan vitamin B12, dan vitamin K yang penting dalam proses pembekuan darah. Dalam organ pencernaan berbagai hewan ternak dan kuda, bakteri anaerobik membantu mencernakan selusosa rumput menjadi zat yang lebih sederhana sehingga dapat diserap oleh dinding usus.

Bakteri fermentasi

Bakteri fermentasi berguna untuk membuat makanan dan minuman contohnya tape, oncom dll.

2.3  Waktu Isolasi

Waktu isolasi kuman yang dilakukan pada medium yang terdapat pada petridish adalah 15 menit. Hal ini dikarenakan waktu 15 menit dianggap cukup baik untuk dapat mewakili keberadaan bakteri yang ada di ruangan tersebut.

Media agar PCA tersebut diletakkan di dalam petridisk .Bentuk petridish adalah bulat ( seperti toples kaca yang tipis ),warnanya bening terbuat dari kaca berdiameter 10 cm.

BAB III

LANGKAH KERJA

3.1  Alat dan Bahan

  • PCA
  • Lampu Bunsen
  • Tungku
  • Spatula
  • Petridish yang telah steril 2 buah
  • Pipet ukur yang telah steril 1 buah
  • Ban penghisap

3.2  Langkah  Kerja Pembuatan Media Agar

  • Sterilkan tempat , alat dan bahan yang digunakan menggunakan alkohol
  • Ambil PCA pada tabung erlenmeyer dari kulkas, kemudian panaskan PCA menggunakan lampu Bunsen hingga mendidih
  • Ambil PCA menggunakan pipet ukur 10 ml dengan mengunakan ban penghisap
  • Kemudian masukkan ke dalam petridish
  • Kemudian diamkan hingga membeku, setelah itu bungkus rapi kembali, kemudian masukan petridish tersebut ke dalam alat inkubasi dengan suhu 35-37 oC selama

2 x 24 jam ( posisi petridish dalam kondisi terbalik )

BAB IV

HASIL KEGIATAN

4.1 Waktu  Pelaksanaan

Hari                 : Selasa

Tanggal           : 11 Januari 2011

Pukul               : 9.00 WIB s/d selesai

4.2 Lokasi Kegiatan

Kegiaan praktikum clinical Instrucure ini di laksanakan di kampus kementerian kesehatan republik indonesia politeknik kesehatan jambi jurusan kesehatan lingkungan.

4.3 Hasil Kegiatan

4.3.1 Deskripsi keadaan ruangan

1.  Ruang kelas tingkat 1

–          Ukuran bangunan

P : 1178 cm

L : 795 cm

T : 302 cm

–          Ukuran pentilasi

P : 222 cm

L : 60 cm

–          Memiliki kipas angin, tetapi tidak berfungsi.

–          Lampu menyala.

–          Ruangan sedikit kotor (ada sampah).

  1.  Ruang Laboratolium

–          Ukuran bangunan

P :  983 cm

L :  582 cm

T :  325 cm

–          Ukuran pentilasi

P :  235 cm

L :  60 cm

–          Lampu hidup

–          Ruangan bersih

  1. Wc Dosen / Kantor

–          Ukuran bangunan

P :  340 cm

L :  90 cm

T :  312 cm

–          Ukuran fentilasi

P :  80 cm

L :  8 cm

–          Lampu mati.

4.3.2 Hasil Pengamatan laboratorium

Control :  4 koloni

1.  Ruang kelas tingkat1

Petridish 1 = 31 koloni

Petridish 2 =  26 koloni

Jadi :  (j.petridish 1-control)+(j.petridish 2-control) : waktu pengambilan

j. petridish

Jumlah koloni kuman di ruang kelas 1= (31-4)+(26-4) : 15

2

=  ( 49/ 2 ): 15

= 1,633 koloni kuman / menit

 

 

  1. Ruang laboratolium

petridish 1 =  20 koloni

petridish 2 =  16 koloni

Jadi :  (j.petridish 1-control)+(j.petridish 2-control) : waktu pengambilan

j. petridish

Jumlah koloni kuman di ruang tingkat 1   = (20-4)+(16-4) : 15

2

=  ( 16+ 12 / 2 ): 15

= 14 : 15

= 0,93  koloni kuman / menit

  1. Wc dosen / kantor

Petridish 1 =  22 koloni

Petridish 2  =  49 koloni

Jadi :  (j.petridish 1-control)+(j.petridish 2-control) : waktu pengambilan

j. petridish

Jumlah koloni kuman di ruang wc dosen = (22-4)+(49-4) : 15

2

=  ( 18+ 45 / 2 ): 15

= ( 63 / 2 ) : 15

= 2,1  koloni kuman / menit

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil pengamatan di lapangan dan pemeriksaan di laboratorium di dapatkan hasil bahwa:

  1.  Ruang kelas 1,633 koloni koloni/ menit
  2. Ruang laboratolium 0,93koloni/menit
  3. Wc dosen/ kantor 2,1 koloni/menit

5.2 Saran

Kepada seluruh perangkat kampus diharapkan lebih menjaga kebersihan dan keehatan setiap kelas, karena angka kuman diudara juga dapat dipengaruhi dari aktifitas manusia .

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro.2005. DASAR-DASAR MIKROBIOLOGI. Surabaya. Djambatan

http://www.WIKIPEDIA.com( diakses tanggal 13 januari 2011)

BAKTERI DIUDARA “http://id.wikipedia.org/wiki/bakteri ( diakses tanggal 13 januari 2011)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: