noviakl10jambi

Februari 16, 2012

AKHIRAN ASING

Filed under: Uncategorized — noviakl10jambi @ 8:10 am

Dalam pertumbuhan bahasa Indonesia, banyak imbuhan baru atau serapan dari bahasa daerah, terutama dari bahasa-bahasa asing. Imbuhan-imbuhan tersebut sangat produktif, lebih banyak tampil dalam surat kabar-surat kabar atau karya ilmiah.

 

  • Akhiran dari Bahasa Sanskerta

Dalam bahasa Indonesia, terdapat akhiran –wan dan –man yang kita pungut dari bahasa sanskerta. Bentuk –wan muncul apabila morfem dasar yang dilekatinya berakhiran dengan vokal /a/, misalnya : hartawan, bangsawan, rupawan, sejarawan, wartawan. Sedangkan bentuk –man muncul bila morfem dasar yang dilekatinya berakhiran dengan vokal /i/, misalnya : budiman.

Menilik kata bentukan yang sudah ada, kita dapat menarik kesimpulan bahwa makna yang tersimpul dalam akhiran –wan atau –man itu ialah : (1). Orang yang memiliki apa yang disebut oleh kata dasar itu. (2). Orang yang ahli dalam bidang yang disebut oleh kata dasar itu. (3). Orang yang berkecimpung atau terus terlibat dengan hal atau pekerjaan yang disebutkan oleh kata dasar, misalnya, wartawan, olahragawan.

Yang menjadi masalah sehubungan dengan penggunaan akhiran –wan atau –man ialah pembentukan kata-kata dengan akhiran ­–wan yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Seperti pada kata-kata, ilmiawan. kata itu terbentuk dari kata dasar ilmia yang artinya “yang bersifat ilmu” jadi kita artikan sebagai orang memiliki ilmiah, orang yang mempunyai sifat ilmiah. Kedua arti tersebut tidak benar karena tidak ada orang yang mempunyai sifat ilmiah. Oleh sebab itu, bentuk ilmiawan bukanlah bentukan yang benar. Seharusnya diambil dari kata dasar ilmu dan ditambahkan akhiran –wan menjadai ilmuwan artinya orang yang memiliki ilmu atau orang yang ahli dalam ilmu tertentu.

 

  • Akhiran dari Bahasa Arab
  1. Akhiran –i dan –wi

Dalam bahasa Indonesia, kita kenal kata-kata pungut dari bahasa Arab : badan, alam, insan. Dan juga mengenal kata-kata : badani, alami, insani, dan disamping itu bentuk-bentuk : badaniah, alamiah, insaniah.

Melihat bentuk-bentuk itu kita dapat menarik kesimpulan bahwa ada akhiran –i dan –iah dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab.

Akhiran –i dari bahasa Arab itu mempunyai alomorf –wi. Alomorf –wi muncul bila bentuk dasar berakhir dengan vokal /a/ : misalnya, duniawi, samawi yang artinya bersifat dunia dan bersifat langit.

Jika kita perhatikan pertumbuhan bahasa Indonesia, akan tampak kepada kita bahwa akhiran –i dan –wi yang berasal dari bahasa Arab itu mulai dipakai melewati batas lingkungannya, maksudnya akhiran itu mulai diletakkan pada bentuk-bentuk dasar yang bukan kata Arab. Bentukan itu kita katakana dengan analogi. Seperti, kata surga dan manusia berasal dari bahasa Sanskerta diberi akhiran –wi menjadi surgawi ”bersifat surga” dan manusiawi “bersifat manusia”.

  1. Akhiran –in dan –at

Akhiran lain yang berasal dari bahasa Arab kita temukan pada kata-kata bahasa Indonesia yaitu akhiran –in dan –at. Akhiran –in dan –at dipingut dengan kata bentukannya secara utuh dari bahasa Arab, misalnya : muslimin, muslimat, mukminin, mukminat.

Akhiran –in dalam bahasa Arab merujuk kepada bentuk jamak laki-laki, sedangkan akhiran –at menyatakan bentuk jamak perempuan. Akhiran ini sangat terbatas pemakaiannya dibandingkan dengan akhiran –i atau –wi.

  1. Akhiran –ah

Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata almarhum dan almarhumah. Kedua kata itu dipakai untuk menyebut seseorang yang telah meninggal. Kata almarhum menunjuk kepada yang telah meninggal laki-laki, sedangkan almarhumah berarti yang telah meninggal perempuan. Penggunaan akhiran ini sangat terbatas.

 

  • Akhiran dari Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda
  1. Akhiran –is

Dalam bahasa Indonesia kta mengenal kata-kata ekonomis, praktis, logis. Akhiran –is berasal dari bahasa Belanda –isch. Kata-kata dengan akhiran –isch itu dalam bahasa Belanda merupakan kata sifat, demikian juga kata-kata bahasa Indonesianya. Seperti ekonomis artinya bersifat ekonomis.

Tampaknya akhiran –is yang pada mulanya kita ambil bersama-sama dengan bentuk dasarnya (kita mengambil kata asing dalam bentuk utuh, lalu ejaannya kita sesuaikan dengan ejaan kita) mulai melewati batas bahasa asalnya. Maksudnya, akhiran –is mulai dipakai pada bentuk-bentuk dasar yang bukan kata bahasa Belanda. Contohnya, pancasilais artinya penganut pancasila dasar negara kita.

  1. Akhiran –isme

Dalam bahasa Indonesia, kita gunakan kata-kata : kolonialisme, modernisme, komunisme, dll. Kata-kata itu pun kita ambil dari bahasa Belanda kolonialisme, modernisme, communisme. Dilihat dari bentuk bahasa Indonesianya, kita menarik kesimpulan bahwa bentuk-bentuk itu kita pungut dari bahasa Belanda yang mengandung makna ajran, paham, alian.

  1. Akhiran –isasi

Akhiran ­–isasi kita jumpai pada kata-kata bentukan seperti : spesialisas, netralisasi, naturalisasi, modernisasi, liberalisasi.

  1. Akhiran –ir

Dalam bahasa Indonesia, kita jumpai bentuk-bentuk bersaing seperti :

dipublisir              dipublikasikan

diprodusir             diproduksikan

direalisir               direalisasikan

  1. Akhiran –ur

(1). Dalam bahasa Indonesia kita jumpai pemakaian kata-kata seperti : direktur, inspektur, kondektur. Kata-kata itu ialah kata-kata bahasa Belanda yang kita pungut, kemudian ejaannya kita Indonesiakan, artinya kita sesuaikan dengan cara menulis (ejaan) dan lafal bahasa Indonesia. Seperti bahasa Belandanya : directeur, inspecteur, conducteur.

(2). Dalam bahasa Indonesia kita juga menjumpai pemakaian kata-kata berakhiran –ur yang berasal dari bahasa asing, tetapi yang bukan berasal dari bentuk –eur. Misalnya : struktur, faktur, miniatur. Dan dalam bahasa Belandanya : structuur, factuur, miniatuur.

  1. Akhiran –if

Dalam bahasa Indonesia kita jumpai bentuk-bentuk bersaing. Yang dimaksud ialah bentuk-bentuk seperti :

produktif              produktip

aktif                      aktip

positif                   positip

  1. Akhiran –al

Dalam bahasa Indonesia kita jumpai bentuk-bentuk bersaing. Yang dimaksud ialah bentuk-bentuk seperti :

strukuturil            structural

formil                   formal

rasionil                 rasional

  1. Akhiran –logi

Dalam bahasa Belanda –logie dan dalam bahasa Inggris –logy. Dan dalam bahasa Indonesia diubah menjadi ­–logi.

Inggris      : technology, phsyiology, analogy

Belanda   : technologie, phsyiologie, analogie

Indonesia : teknlogi, fisiologi, analogi.

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: